Kontroversi gambar Cut Nyak Mutia tak berhijab, berikut sejarah kegigihannya

Foto asli Cut Meutia yang ada di Kementerian Sosial dan Dinas Sosial Provinsi Aceh. (Ist)

(KANALACEH.COM) – Salah satu tokoh pahlawan Indonesia yang sedang hangat diperbincangkan ialah Cut Nyak Mutia, Pahlawan perempuan asal Aceh itu baru-baru ini banyak diperbincangkan dikalangan masyarakat setelah Bank Indonesia (BI) merilis pecahan rupiah baru dan terdapat dari salah satu pecahan tersebut gambar Cut Nyak Mutia tak memakai hijab/jelbab.

Lalu Siapakah Cut Mutia itu, Bagaimanakah perjuangan perempuan asal tanah rencong ini, berikut sejarah singkatnya:

Cut Mutia dilahirkan pada tahun 1870, anak dari hasil perkawinan antara Teuku Ben Daud Pirak dengan Cut Jah. Dalam perkawinan tersebut mereka dikarunia 5 anak. Dan Cut Mutia merupakan putri satu-satunya dari kelima suadara itu, sedangkan keempat saudaranya adalah laki-laki. Ayahnya merupakan uleebalang (golongan bangsawan dalam masyarakat Aceh yang memimpin sebuah naggroe/daerah) di desa Pirak yang berada dalam daerah Keuleebalangan Keureutoe.

Pirak merupakan sebuah desa di Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh utara, atau kira-kira sekitar 25 Kilometer dari kota Lhokseumawe, dan sampai saat ini kita masih menemukan rumah yang pernah ia tepati samasa hidupnya. Seperti juga pahlawan-pahlawan perempuan Aceh lainnya seperti Cut Nyak Dhien. Pocut Baren, Cu Nyak Mutia adalah sosok perempuan diperhitungkan dan disegani oleh pihak Belanda karena keberaniannya.

Dalam buku Agus Budi Wibowo, berjudul Kompilasi Sejarah dan Budaya Aceh menceritakan bahwa awalnya daerah Uleebalang di Pirak saat Teuku Ben Daud ayah daripada Cut Mutia memimpin, keadaan setempat penuh dengan ketenangan dan kedamaian sebagai seorang yang bijaksana perhatiannya kepada masyarakat tidak berkurang, karena saelain sebagai Uleebalang dirinya juga terkenal sebagai ulama yang ulung dan sampai akhir hayatnya tidak pernah tunduk terhadap pihak Belanda, dan tidaklah heran jika sifat kesatria itu terbina kepada Cut Mutia sejak dari kecil.

Pernikahan Cut Nyak Mutia

Saat Cut Mutia Dewasa, ia mulai ditunangankan dan dinikahkan oleh orang tuanya dengan Teuku Syamsarif dan dengan gelar Teuku Chik Bintara, namun akhirnya Teuku Syamsarif yang tidak lain merupakan suami dari Cut Nyak Mutia ini menjalin hubungan baik dengan pihak kompeni (Belanda). Suaminya tersebut merupakan anak angkat dari Teuku Chik Muda Ali dan Cut Nyak Asiah yang juga Uleebalang Keuratoe.

Perbedaan pendapat dengan suaminya dianggap sikap yang lemah dan  berpihak kepada Belanda menjadi salah satu alasan Cut Mutia menjadi dasar peceraian dengan suaminya, Teuku Syamsarif. Setelah itu Cut Mutia kembali menikah dengan Teuku Cut Muhammad, yang memiliki tujuan yang sama memerangi pihak Belanda.

Cut Mutia mempertahankan Agama Islam

Setelah menikah dengan Teuku Cut Muhammad, Cut Nyak Mutia mulai berperang menghadapi pihak Belanda. Dan di berbagai medan perang ia ikuti yang berada dikawasan Aceh Utara. Pada Mulanya perang tersebut dimulai dengan sistem Frontal dan setelah itu baru mengunakan sistem Gerilya dari hutan ke hutan Pasai, hingga disalah satu perang yang dasyat, suami Cut Nyak Mutia tertawan dalam pertempuran dan dihukum oleh pihak Belanda dengan ditembak mati.

Untuk kedua kalinya Cut Nyak Mutia menjadi janda setelah suami keduanya syahid dalam peperangan pada tanggal 26 September 1910, dalam sebuah pertempuran. Namun itu semua tak menyurutkan semangat Cut Nyak Mutia untuk terus menghadapi pihak marsose itu.

Syahidnya Cut Nyak Mutia dijalan Allah

Pada Tanggal 22 Oktober 1910, sepasukan besar dari marsose (Belanda) yang dipimpin oleh W.J Mosselman menyerbu benteng pertahanan Cut Nyak Mutia setelah mendapat informasi dari mata-matanya. Kekurangan pasukan dan senjata menjadi alasan saat itu kualahan menghadapi Belanda. Hingga detik terakhir Cut Nyak Mutia tetap tidak mau menyerah sampai pihak marsose menembak  dan mengenakan dibagian tubuh Cut Nyak Mutia, dan pada akhirnya Cut Nyak Mutia pun Syahid, peristiwa itu terjadi pada tanggal 25 Oktober 1910. [Fahzian Aldevan]

Komentar Facebook
loading...