Gusdur. (embunhikmah.com)
--Ads--
loading...

(KANALACEH.COM) – SETELAH sekian lama terbelenggu dalam kekuasaan rezim, ruang gerak pers Indonesia akhirnya terbuka lebar di era reformasi. Pers mendapat kebebasan berekspresi, menyuarakan aspirasi, hingga mengkritik pemerintah. Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sosok penting di balik perubahan itu.

Sebelum menjadi Presiden keempat RI pada 1999-2001, Gus Dur menghabiskan masa mudanya sebagai jurnalis. Ia juga menentang keras kontrol penguasa terhadap pers dan pembredelan beberapa media pada rezim Suharto. Gus Dur konsisten memperjuangkan hak-hak media massa.

Saat menjadi orang nomor satu di Indonesia, Gus Dur pun menunjukkan sikapnya mewujudkan negara yang demokratis. Ia membuka lebar-lebar ruang bagi pers berekspresi dengan membubarkan Depertemen Penerangan (Deppen) yang saat itu jadi momok menakutkan bagi pers karena ia punya kuasa mencabut izin penerbitan atau membredel media.

Ads

Setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pada era Presiden BJ Habibie, pers belum sepenuhnya bebas meski sudah ada jaminan konstitusi. Pers baru bisa bernapas lega usai Deppen dibubarkan. Ini buah manis dari sebuah reformasi.

Gusdur menilai dalam negara demokrasi, informasi itu milik publik bukan pemerintah. Deppen dianggap telah berdosa karena mengontrol informasi dan memonopoli kebenaran atas nama pemerintah.

Selain lama menjadi jurnalis, Gus Dur juga sadar bahwa ia adalah sosok yang dibesarkan oleh media. Kecuali lewat tulisannya sendiri, ide, masukan, pandangan, dan kritikan Gus Dur untuk kebaikan negeri banyak diangkat oleh pers. Sebagai seorang mutidimensi, ulama, intelektual, budayawan, sosok Gus Dur menyedot perhatian media.

“Saya berjuang secara konsisten untuk menegakkan demokrasi di Indonesia, sampai saya menjadi Presiden RI keempat sekarang ini. Dalam keterbatasan kebebasan pers waktu itu, saya bersyukur bahwa pikiran dan pandangan saya diangkat oleh pers,” kata Gus Dur saat masih menjadi Presiden.

Mantan pemimpin NU itu menghabiskan masa mudanya dengan bergelut dengan ilmu dan hal-hal sosial. Dari kecil, ia sudah menunjukkan kegemarannya menulis.

Gus Dur pernah jadi jurnalis di lintas media ternama serupa majalah sastra Horizon, Majalah Budaya Jaya, Panji Masyarakat yang didirikan Buya Hamka, dan Majalan Prima.

Karya jurnalistik Gus Dur juga dimuat di Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan lainnya. Dalam kurun tahun 1970-an hingga 80-an, Gusdur juga aktif menulis sendiri, mengisi kolom di Majalah Tempo. Gus Dur ikut mengulas analisisnya seputar sepak bola dan mesalah sosial budaya.

“Produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Muhammad, pemimpin redaksi Tempo waktu itu mengambil inisiatif untuk menyediakan satu meja khusus plus mesin ketik untuknya. Hampir tiap minggu Gus Dur menulis,” tulis M Haromain dari Forum Santri Temanggun seperti dilansir laman Nahdlatul Ulama (NU).

Saat Tempo, Detik, Editor, dibredel pada 1994, Gus Dur berdiri di antara tokoh-tokoh nasional saat itu menentang keras kebijakan pemerintah tersebut yang dianggap sebagai preseden buruk bagi demokrasi Indonesia. [Okezone]