(ist)
--Ads--
loading...

Angin berhembus pelan, kabut pagi masih menyelimuti jalan. Minggu menjelang pagi tadi (29/10) sejumlah mantan kombatan Teuntara Neugara Aceh (TNA) Daerah III Teungku Chiek di Paya Bakong Wilayah Samudra Pasee sudah berada di sebuah rumah semi permanen di gampong Blang Trieng, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Mereka terlihat turut membantu menyiapkan beberapa hal untuk menyambut tamu pada acara sebuah resepsi.

Wahyuni (20), putri pertama buah perkawinan Muhammad (Ahmad Leupon) bersama Nurhayati, melepaskan masa lajangnya dipersunting seorang lelaki asal Alue Bay Kecamatan Paya Bakong, bernama Muhammad (23).

Dari kejauhan, Yuni melihat sejumlah mantan kombatan GAM yang juga merupakan kerabat almarhum ayahnya tiba di kediaman neneknya, disini acara resepsi tersebut dilaksanakan.

Ads

Raut wajahnya mulai gelisah, matanya berkaca-kaca, suaranya serak. “Bang Bodrex, Bang Rembo neulangkah u dalam neudong foto ngon lon sion. (Bang Bodrex, Bang Rembo, masuklah kedalam untuk foto sekali),” ajak Yuni. Ajakan tersebut dipenuhi oleh lelaki bertubuh tegap itu yang juga pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPR Aceh pada Pileg 2014 lalu. Ibunda Ahmad Leupon, Ainul Mardhiah (64) dari bilik pintu terlihat matanya berkaca-kaca, begitu juga dengan Yuni.

“Bang, teurimoeng geunaseh ka neulangkah keunoe, ureung droen njang peuduli jinoe dan geunantoe ayah di ulon. (Bang, terimakasih banyak sudah menghadiri dan peduli kepada saya, abang-abanglah pengganti ayah sekarang),” ucap Yuni yang disambut suasana yang mengharu biru.

Kemudian, Rembo dan Bodrex serta sejumlah KPA lainnya pamit untuk menikmati hidangan bersama rekannya di bawah tenda yang telah disiapkan didepan rumah semi permanen yang dikelilingi pohon-pohon besar itu. Dalam kesempatan tersebut media ini berhasil mewawancarai saksi kunci dalam kontak tembak yang merengut nyawa Ahmad Leupon.

Junaidi, pria ini dijuluki Jacky Chan sebagai nama lapangannya. Masa itu tahun 2004, saat akan dilakukan pemilihan Presiden Republik Indonesia. Dua hari sebelumnya, sembilan pasukan GAM turun dari kompinya daerah Pucoek Alue Kareung di pegunungan ke permukiman warga untuk mengambil logistik untuk disuplay ke rekan-rekan perjuangannya di hutan. Kemudian, lanjutnya, enam orang lainnya kembali ke hutan dan tinggal Ahmad Leupon, Nadir Sumbok dan Jacky Chan beristirahat di permukiman warga.

“Hari itu saya dan Basyir dipilih oleh almarhum untuk menetap bersamanya, kami turun dengan senjata lengkap, dan beristirahat di salah satu rumah warga di samping masjid Gampong Blang Pie,” ungkap Jacky Chan.

Menurutnya lagi, saat sedang beristirahat Nadir Sumbok mengeluh untuk ditukar dengan anggota GAM lainnya dikarenakan alasan kesehatan. Kemudian, Ahmad Leupon yang merupakan Panglima Operasi GAM tidak memenuhi permintaan tersebut. Dikatakannya lagi, gelagat pemilik rumah tempat mereka singgah mulai mencurigakan, keluar masuk rumah, tak lama kemudian terlihat puluhan TNI berdatangan diujung jalan yang berjarak sekitar 100 meter.

Jacky Chan dan Nadir Sumbok mulai was-was, namun tidak sama halnya dengan Ahmad Leupon. Dia tidak mengkhawatirkan militer Indonesia akan mengepung lokasi tempat mereka singgahi tersebut. Pemilik rumah semakin mencurigakan, bahkan hari itu kala matahari yang sudah meranjak terbenam terlihat oleh Jacky Chan pemilik rumah tersebut menjumpai militer Indonesia.

Malam pun larut, jangkrik mulai bernyanyi dengan nada-nada indahnya, Ahmad Leupon dan kawan-kawan baru saja menyelesaikan ibadah shalat isya. Disebelah rumah, yang merupakan masjid terlihat anggota Polisi dari Polsek Tanah Luas sedang menyiapkan kotak suara untuk pemilihan presiden keesokan harinya. Namun, persembunyian mereka tidak tercium oleh Polisi.

“Bang, musuh diluar,” ujar Jacky Chan kepada Ahmad leupon.

“Sudah kamu ketahui ada musuh diluar, jadi bagaimana? Kalau saya intruksikan tembak, ya tembak,” jawab Ahmad Leupon kala itu.

Malam semakin larut, angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di halaman rumah, militer Indonesia mulai merapatkan gerakannya ke rumah Ahmad Leupon cs beristirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB pagi, kabut mulai menutupi daratan tinggi itu.

“Ada anggota GAM didalam tiga orang,” sebut salah satu militer Indonesia pada rekannya yang sudah berada di halaman rumah.

“Kami sudah tahu ada GAM didalam rumah ini, cepat keluar sebelum kami tembak,” ujar salah satu militer Indonesia lainnya dengan nada keras.

Intruksi tersebut tidak digubris Ahmad Leupon cs, bahkan mereka mengintip dari sudut-sudut rumah. Lalu, Ahmad Leupon mengokang senjata miliknya. Menembak salah satu militer Indonesia tepat di jidatnya. Diluar rumah, Militer Indonesia yang tak menerima temannya meninggal dunia juga bersiap menembak kedalam. Didalam rumah, tiga kombatan GAM mulai berwasiat sesamanya.

“Kalau saya yang mati, tolong jaga ibu, isteri dan anak-anak saya. Anak saya titipkan did ayah untuk mengaji,” pesan Ahmad Leupon kepada Jacky Chan. Saat menceritakan wasiat ini, Jacky Chan mengeluarkan airmatanya.

Dilanjutkannya, Militer Indonesia mulai menembak kedalam. Ahmad Leupon cs mulai merayap keluar rumah dalam kondisi gelap gulita. Saat itu, pihak GAM juga membalas tembakan dari dalam rumah. Sambil merayap keluar rumah, Nadir Sumbok terkena tembakan, meninggal ditempat. Lalu, dengan keberaniannya Ahmad Leupon tetap bersikukuh untuk membalas tembakan ke arah militer. Tepat di pintu belakang rumah, Ahmad Leupon kembali menembaki kea rah militer yang juga dapat balasan tembakan dari luar. Ahmad Leupon meminta Jacky Chan untuk keluar rumah dengan menggunakan kain dan menutupi kepalanya, dengan maksud menyamar selayak perempuan. Dalam balutan kain tersebut, Jacky Chan menyembunyikan senjatanya dan memakai rompi anti peluru. Dibelakangnya, Ahmad Leupon juga ikut merayap.

Jacky Chan berhasil dengan penyamarannya, dia lolos saat itu. Namun tidak dengan Ahmad Leupon, dia tertembak diantara ilalang dan pohon pandan di belakang rumah persembunyian tersebut. Dua anggota GAM syahid pagi menjelang subuh kala itu.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..

Semasa hidupnya, Ahmad Leupon dikenal sebagai pasukan GAM yang tangguh. Keberaniaannya sangat ditakuti lawan. Gerak geriknya tidak mencurigakan, taktik perang sangat dikuasainya. Daripada itu, dirinya dipilih oleh pimpinan GAM menjabat sebagai panglima operasi.

Demikian ungkap Bodrex, menurutnya, yang sangat dikagumi dari sosok Ahmad Leupon adalah kecerdasannya merakit alat perang. Bahkan, Ahmad Kandang sangat menyayangi Ahmad Leupon dikarenakan kehebatannya melebihi komputer dikarenakan mampu merakit bom dan senjata yang besar.

“Saat itu kami pernah harus membayar lahan kakao milik warga saat uji coba senjata buatan Ahmad leupon, hangus 4 hektar lahan saat itu,” ungkap Bodrex.

Wahyuni (20) dan Muhammad Ilham (14 tahun) buah hati dan titipan Ahmad Leupon dalam wasiatnya. Kini keduanya berstatus yatim piatu. Ibunya, Nurhayati, juga telah kembali pada Sang Khalik pasca Aceh berstatus damai. Saat ini kedua buah hati sang pejuang itu tinggal bersama sang nenek yang sudah renta. [Rajali Samidan]