Hubungan agama dengan bencana

Hubungan agama dengan bencana
Munawir.

Oleh: munawir

DALAM beberapa hari ini kita telah melihat bencana banjir di di beberapa kabupaten di Aceh yaitu, Kabupaten Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Singkil, Aceh Barat dan Pidie. Dari bencana itu, membuat jembatan amblas ke sungai karena longsor, dan terganggunya aktivitas masyarakat setempat.

Penyebab terjadinya banjir memang berasal dari curah hujan yang sangat tinggi. Apabila hujan terus menerus tentu air tidak akan langsung mengalir, melainkan menjadi genangan. Genangan air tersebut lama-lama menumpuk sehingga menyebabkan banjir. Tentunya jalan akan terkikis oleh air yang terlalu lama.

Penyebab lainnya juga dikarenakan meluapnya air sungai, yang disebabkan oleh dangkalnya sungai, sehingga air merambah rumah-rumah warga yang dekat dengan sungai. Hal ini sangat ditakuti oleh warga dengan merambahnya air sungai ke rumahnya, karena bisa menyebabkan korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Ads

Pengundulan dan penebangan hutan  secara liar di hutan juga membawa terjadinya bencana banjir, sebab pohon sangat berkontribusi dalam menjaga siklus air, melalui akar pohon menyerab air yang kemudian dialirkan ke daun dan kemudian menguap dan dilepaskan ke lapisan atmosfer.

Ketika pohon-pohon ditebang dan daerah tersebut menjadi gersang, maka tidak ada lagi yang membantu tanah dalam menyerab lebih banyak air, dengan demikian, akhirnya menyebabkan terjadinya banjir.

Sampah juga suatu penyebab terjadinya banjir, karena sampah bisa membuat tersumbatnya saluran-saluran air, sehingga membuat meluapnya air. Kesadaran masyarakat dalam membuat sampah pada tempatnya sagatlah minim, hal tersebut bisa dilihat banyaknya sampah yang berserakan di pingir jalan. Dan juga membangun bangunan di pinggir sungai membuat terjadinya banjir, kebanyakan sampah-sampah bangunan langsung kita buang ke sungai.

Dalam Agama, penyebab terjadinya bencana sangatlah berkaitan dengan  perbuatan manusia, seperti yang ditulis oleh H Ismail Yacok, DKK, dalam bukunya yang berjudul “Fiqih Konservasi Alam”.

Musibah terjadi karena ulah manusia, yaitu karena dosanya. Sebagaimana yang tertuang dalam Qs. An-Nisa’ ayat 79. Artinya: “Nikmat apa saja yang engkau perolah adalah dari Allah, dan apa saja musibah yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri”. Dan juga musibah tidak terjadi kecuali izin Allah, Qs. At-Taghabun ayat 11. Artinya: “Tidak sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”.

Ketika mengungkapkan hubungan Agama dan bencana, menunjukkan adanya timbal balik antara keduanya. Dalam Agama manusia sangatlah dituntun untuk menjaga kelestarian Alam dan lingkungannya, dalam ayat  Al-A’raaf ayat 56. Artinya: “Dan janganlah engkau membuat kerusakan dibumi ini setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut  dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang baik”.

Selain Al-Qur’an, kitab-kitab fiqih juga sangat banyak yang membahas tentang perlunya pelestarian terhadap alam dan lingkungan hidup. Tidak terkecuali apakah apakah kelestarian terhadapap hewan, tumbuhan, air, udara dan lain sebagainya. Menurut kacamata fiqih, semua jenis kekayaaan ini memiliki hak-hak yang wajib dipelihara dan dilindungi.

Maka cobalah untuk kita semua renungilah perbuatan-perbuatan apa yang sudah kita lakukan terhadap Alam ini, sehingga Allah mengarunia bencana ini untuk kita semua. Dekatilah kepada Allah dan mintak pertolongan kepadanya untuk menjauhi bencana ini, dan lakukanlah perbuatan yang dianjurkan oleh Allah SWTdan jauhilah larangannya. Mungkin kita tidak cukup hanya berdo’a kepada Allah, tapi harus diiringi dengan usaha untuk mengantisipasi terjadinya musibah ini, maka untuk mencegah banjir dan berbagai dampak positif terhadap kita, sebaiknya melakukan pencegahan sedini mungkin, dengan keseriusan dari pihak-pihak lain.

Ada beberapa faktor dalam usaha pencegahan banjir yaitu: pertama, perlu membagun kesadaran dan kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya, dan dari pihak pemerintah juga mensosialisasikan pentingnya hidup bersih dan sehat.

Kedua, dari pemerintah untuk membantu dana dalam penggalian sungai yang lebih dalam lagi, sehingga saluran-saluran air yang sudah di buat juga bisa menjamin air hujan akan disalurkan ke tempat yang lebih rendah.

Ketiga, reboisasi tanaman khusus yang bisa menyerab lebih banyak air, seperti pohon terambesi, mahoni, angsana, akasia, beringin, asam jawa, cemara bundle, johar, matoa, bungur, kiara payung, tanjung, dadap, dan juga menanam bambu di pinggir-pingir sungai.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Jurusan Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email [email protected]

Ads