Adnan Ganto dapat gelar Doktor Honoris Causa dari Unsyiah

Adnan Ganto dapat gelar Doktor Honoris Causa dari Unsyiah
Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal menyerahkan gelar Doktoris Causa kepada Adnan Ganto, Selasa (9/1). (Humas Unsyiah)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (Dr HC) kepada Adnan Ganto di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Selasa (9/1). Penganugerahan gelar kehormatan ini merupakan keempat kalinya yang dilakukan oleh Universitas Syiah Kuala.

Gelar Doktor Kehormatan (Dr HC) yang pertama dari Unsyiah diberikan untuk Dr H Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, kemudian yang kedua untuk Dr H Susilo Bambang Yodhoyono, mantan presiden Republik Indonesia, serta yang ketiga untuk Drs H Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia.

Menurut Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal, M Eng, pemberian Dr HC kepada Adnan Ganto karena dinilai telah memberikan kontribusi maksimal untuk Aceh. Adnan berperan menumbuhkembangkan kemapanan sistem ekonomi dan perbankan di Aceh secara signifikan.

“Salah satunya proses transformasi Bank Pembangunan Aceh menjadi Bank Syariah Aceh. Adnan juga dinilai bukan hanya membantu di bidang ekonomi dan perbankan semata, tetapi juga di bidang pendidikan, sosial, politik dan kebudayaan,” ujarnya.

Prof Samsul menilai banyak perguruan tinggi di Aceh yang merasakan kontribusi dari Adnan Ganto, termasuk di antaranya Universitas Syiah Kuala.

Selain itu, Adnan dikenal sebagai sosok langka karena mampu menduduki posisi direktur dan komisaris di sebuah bank terkemuka di Amerika Serikat yaitu Morgan Bank.

Posisi tersebut menurutnya, merupakan posisi yang sangat prestisius untuk seorang Asia, terlebih lagi bagi orang Aceh. Kelangkaan berikutnya ketika Adnan ditunjuk menjadi penasehat Departemen Pertahanan Republik Indonesia sebanyak tujuh kali berturut-turut.

“Ini menjadikan Adnan sebagai saksi dalam pelbagai peristiwa politik penting di era Orde baru dan Reformasi,” kata Samsul.

Menurut Samsul, pengalaman Adnan Ganto puluhan tahun di dunia perbankan, baik di Indonesia, Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika, sangat mempengaruhi peran beliau dalam menangani secara efesien paket finansial dan prosedur anggaran pemerintah, terkait dengan sistem pendukung yang dibutuhkan oleh angkatan bersenjata Indonesia.

“Beliau ditempa dan dididik dalam berbagai dilema sehingga berani mengambil keputusan penting yang kadang tidak begitu popular bagi sebagian orang,” ujarnya.

Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya Adnan Ganto menyampaikan tentang Krisis Keuangan Global 2008 dan Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Dalam pemaparannya ia menyebutkan krisis keuangan global 2008 berawal dari Krisis Kredit Perumahan di Amerika Serikat yang menyebabkan beberapa Bank di Amerika Serikat mengalami likuidasi.

Krisis ini kemudian meluas menjadi Krisis Keuangan Global dan berdampak negatif bagi Indonesia. Akibat dari ekonomi global yang terus bergejolak akibat krisis utang, Adnan berharap Indonesia perlu mengendalikan pinjaman luar negeri secara terukur. Memperbesar utang luar negeri menurutnya dapat menjadi ancaman di masa depan, terutama ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap US Dolar.

Untuk itu, ia berharap di tahun 2018, Indonesia dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, walaupun diprediksikan dipenuhi tantangan.

Adnan menyebutkan ada tiga tantangan ekonomi yang akan dihadapi Indonesia pada tahun ini, yaitu perlambatan konsumsi masyarakat, pelemahan harga komoditas dunia, dan gejolak pasar keuangan global.

Indonesia perlu mengutamakan pembangunan projek infra-struktur strategis secara masif. Karena pembangunan infrastruktur adalah padat modal, dengan demikian akan memberikan efek peningkatan padat karya untuk menyerap lapangan pekerjaan baru.

Pembangunan Infrastruktur juga dapat meningkatkan kegiatan ekonomi pada sektor riil. Ini akan memberikan efek positif terhadap peningkatan belanja konsumsi masyarakat yang dapat menopang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. [Aidil/rel]

Komentar Facebook
Ads