Tradisi Sufisme di Senegal

Muslim Senegal. (Republika.co.id)

(KANALACEH.COM) – Islam bukan agama baru di Senegal. Sebanyak 92 persen masyarakat di sana adalah Muslim.Mereka aktif di berbagai dimensi kehidupan. Ada yang menjadi pengusaha, aparatur negara, atau pun karyawan.

Agama ini diperkirakan telah hadir di Senegal sejak abad ke-11. Ketika itu Muslim sufi datang melalui jalur perdagangan, di saat Prancis menjajah negara tersebut.

Pemerintah kolonial tak mendapatkan tempat di hati rakyat negeri itu. Masyarakat berlindung kepada ulama yang menyebarluaskan ajaran agama. Pesan takwa yang terkandung di dalamnya menjadi solusi permasalahan yang mereka hadapi.

Masyarakat yang mencintai Islam berkumpul dalam sejumlah tarekat, seperti Tijaniyah, Qadiriyah, dan lainnya. pendekatan sufistik dalam dakwah Islam di sana sangat diterima masyarakat setempat.

Sebabnya, adat-istiadat mereka tidak berbenturan dengan Islam. Kultur dan agama menyatu menjadi nilai yang mengarahkan kehidupan mereka menuju kebaikan.

Kondisi itu tak hanya menyentuh kalangan sipil, tapi juga bangsawan. Raja Takrur, Perang Jabi pada 1040. Raja berusaha untuk mengajak rakyatnya memeluk Islam, yang sekarang disebut sebagai Tukulors atau orang Toucouleur. Namun kerajaan lain, seperti Jolof, menolak Islam dan lebih mendukung agama tradisional mereka. Islam tak banyak mendapat respons di daerah kerajaan tersebut.

Dalam perkembangannya, Islam tak hanya menjadi agama yang normatif. Dia menjelma menjadi penggerak kesadaran masyarakat dalam berbagai bidang. Pada abad ke-17-18 Islam menjadi kekuatan politik dan militer. Ajarannya menjadi hukum dan pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Kolonialisme Prancis

Selama abad ke-18, Prancis mulai menancapkan kaki kolonialnya di sana.Muslim Senegal mengambil berbagai sikap terhadap hal tersebut. Khususnya di pedesaan, orang-orang Senegal bergabung dengan persaudaraan sufi untuk bersatu melawan penjajahan. Popularitas persaudaraan Tijaniyyah menandai pergerakan ini. Islam menjadi titik kumpul perlawanan Afrika terhadap Prancis.

El Hadj Umar Tall pertama kali menyebarluaskan tarekat Tijaniyah di Afrika Barat setelah ia bergabung dengan tarekat tersebut ketika berhaji. Bagi masyarakat Senegal, dia adalah pemimpin ulama yang paling terkemuka.

Para guru sufi (murabit) lebih didengar masyarakat. Tarekat Mouride berkembang pesat di sana. Ini adalah tarekat yang menjadi wadah berkumpulnya diaspora dan mempersatukan masyarakat Senegal di berbagai wilayah. Gerakannya masuk ke sektor ekonomi masyarakat.

Martin Van Bruinessen (ed) dalam Sufism and the Modern in Islam(2007) menyebutkan, pada masa penjajahan Prancis, pengikut tarekat ini banyak yang menjadi petani kacang. Mereka menjual hasil panennya kepada penjajah. Kemudian mereka membuat jaringan penjualan hasil panen sendiri, mulai pengepul hingga pengolah menjadi produk yang diperdagangkan di pasar Selain petani, pengikut tarekat ini juga berasal dari kalangan politikus yang `dibuang’. Prancis menganggap mereka sebagai ancaman. Orang-orang tersebut diburu dan dicari-cari.

Pendiri Mouride, Syekh Amadou Bamba ditangkap dua kali oleh pemerintah kolonial. Ketidakadilan ini justru meningkatkan popularitasnya dan penghormatan mourides kepada pemimpin mereka. Syekh Bamba dihormati sebagai pemimpin penting perlawanan di Senegal hingga detik ini.

Ada juga kelompok Muslim yang lebih `main aman’. Mereka bekerja sama dengan Prancis sehingga memegang beberapa posisi dalam pemerintahan kolonial.

Islam di Senegal

Kini Buku World Almanac of Islamism (2014) mencatat, setelah 11 September 2001, Presiden Senegal Abdoulayeh Wade mengatur dan menyelenggarakan pertemuan puncak antiterorisme. Dia menyerukan kepada negara-negara Afrika untuk menandatangani deklarasi yang mengecam terorisme dan menganggap mereka sebagai ekstremis dan non-pribumi.

Saat ini, Islam di Senegal digerakkan dua tarekat sufi: Tijaniyah dan Muridiyyah. Tarekat yang kedua sangat terorganisasi. Masyarakat banyak bergabung di dalamnya. Orang dapat menjadi anggota tarekat ini melalui jalur keluarga dan dengan mendeklarasikan kesetiaan kepada murabit.

Tradisi sufisme menjadi daya tarik yang sangat disukai masyarakat. Para ahli tasawuf mengajak masyarakat untuk introspeksi diri. Awalnya dengan mengakui dosa (tobat) dan zikir yang konsisten.Kemudian dilanjutkan dengan menjaga perilaku.

Gaya dakwah seperti itu tak berbenturan dengan kultur setempat. Masyarakat berbondong-bondong untuk ikut bergabung. Mereka menyatakan ketundukannya kepada murabit. Lambat laun tarekat mengarah menjadi gerakan politik.

Massa tarekat menjadi sangat diperhitungkan, karena mengakar dan memiliki jaringan luas. Ada yang memanfaatkan jalur keluarga, bisnis, pendidikan, dan lainnya. Apa kata murabit pasti didengar dan dilaksanakan. [Republika.co.id]

Komentar Facebook
Ads
Selamat menunaikan ibadah puasa 1439H, Tarmilin Usman, SE, M.Si - Ketua PWI Aceh
Ucapan Selamat Kepada Kabupaten Pidie meraih penghargaan WTP