Hunain, pelajaran bagi kesombongan

(net)
--Ads--

(KANALACEH.COM) – Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak ka rena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (QS At-Taubah [9]: 25-27)

Kisah besar tentang Hunain dimulai sekitar tahun 8 Hijriah. Kisah ini berawal dari rencana penyerbuan suku Hawazih dan Tsaqif pada umat Islam.

Malik bin Auf yang akan memimpin penyerbuan itu, tak hanya hanya membawa pasukan laki-laki. Tapi,  juga memerintahkan anggota pasukannya untuk membawa serta seluruh harta, istri, dan  anak-anaknya. Tujuannya agar pasukan Hawazih dan Tsaqif akan mempertahankan mati-matian harta dan keluarga mereka sehingga tak akan lari dari peperangan.

Ads

Mendengar rencana penyerbuan ini, Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Hadrad, untuk mencari informasi kekuatan pasukan Malik bin Auf. Setelah mengetahui kekuatan musuh, beliau pun menyiapkan 12 ribu pasukan Muslim untuk berperang. Mereka terdiri atas 10 ribu orang dari Madinah dan 2.000 orang mualaf dari Makkah.

Akhirnya, Rasulullah dan pasukannya pun berangkat dari Makkah menuju suatu tempat bernama lembah Hunain. Jumlah 12 ribu merupakan jumlah cukup besar dari pasukan kaum Muslimin selama peperangan melawan orang-orang kafir. Melihat banyaknya pasukan pada saat itu, beberapa sahabat mengatakan, “Hari ini kita pasti menang karena jumlah kita cukup banyak.”

Sayangnya, pasukan kafir yang dipimpin Malik bin Auf ternyata lebih dulu sampai di Hunain. Di tempat ini, Malik merencanakan serangan mendadak dengan menempatkan pasukannya gua-gua kecil sekitar lembah Hunain. Mereka akan melakukan serangan mendadak ketika pasukan Muslimin masuk ke kawasan lembah.

Sebelum memasuki lembah Hunain, pasukan Muslimin sempat beristirahat semalam di mulut lembah Hunain. Baru keesokan harinya, saat fajar muncul, pasukan Muslimin dari suku Bani Salim masuk k jalur lembah Hunain di bawah komando Khalid bin Walid.

Saat tentara Islam berada di lembah itulah, tiba-tiba terdengar bunyi riuh desiran anak panah dan teriakan ramai pasukan musuh yang sebelumnya sembunyi di gua-gua. Serangan mendadak ini menimbulkan kegemparan luar biasa di kalangan kaum Muslimin. Pasukan Rasulullah terpecah, yang masing-masing mencari perlindungan bagi dirinya sendiri.

Saat pasukan Muslimin berlarian keluar dari lembah Hunain, Rasulullah SAW sebagai seorang pemimpin tidak sedikit pun mundur dari medan pertempuran. Sambil tetap menunggang keledainya, beliau berseru dengan suara nyaring,

“Hai pembela agama Allah dan Nabi-Nya! Aku hamba Allah dan Nabi-Nya.”

Rasul saw mengucapkan kalimat ini lalu memalingkan keledainya ke medan pertempuran yang telah diduduki pasukan  Malik. Mendengar teriakan itu, sekelompok orang dari pasukan Muslim siap berkorban. Mereka antara lain Ali, Abbas, Fadhal bin Abbas, Usamah, dan Abu Sufyan bin Harits. Mereka tak sudi membiarkan Nabi sendirian tanpa perlindungan, juga maju melakukan perlawanan.

Dalam kondisi tersebut, Rasulullah meminta Abbas, bapak saudaranya, yang suaranya amat keras, memanggil kembali kaum Muslimin yang bertempiaran, “Hai kaum Ansar yang menolong Nabi-Nya! Hai kaum yang membai’at Nabi di bawah pohon surga! Ke mana kamu akan pergi? Nabi berada di sini!”

Kata-kata Abbas ini, sampai ke telinga kaum Muslimin yang kemudian secara bersemangat kembali ke pertempuran.  “Labbaik! Labbaik!” kata mereka.

Dalam waktu sangat singkat, pasukan kaum Muslimin ini pun berhasil membalikkan keadaan dengan memukul mundur musuh. Selain banyak yang terbunuh, sebagian pasukan musuh melarikan diri. Hawazin, Tsaqif, dan sebagian pasukannya melarikan diri ke wilayah Autas dan Nakhlah dan ke benteng Tha’if. Mereka melarikan diri meninggalkan istri, anak-anak, dan harta mereka.

Pasukan Muslim awalnya melakukan pengejaran dengan mengepung benteng Tha’if selama beberapa hari. Namun kemudian, Rasulullah SAW memutuskan untuk menyudahi  pengepungan dan kembali ke titik awal.

Beberapa sahabat bertanya kepada Rasulullah, mengapa menyudahi pengepungan? Beliau hanya tersenyum dan tetap melanjutkan perjalanannya. Rupanya Rasulullah menyadari, suatu saat pasukan musuh akan menyerah sendiri, karena keluarga dan harta mereka dikuasai pasukan Muslim.

Dan ternyata benar, dalam perjalanan kembali ke lembah Hunain, pasukan musuh menyusul mereka dan menyatakan menyerah. Pada Rasulullah, mereka minta agar keluarga dan harta mereka dikembalikan.

Menanggapi permintaan tersebut,  Rasulullah menyatakan, mereka hanya diberi pilihan apakah memilih keluarganya yang dikembalikan atau hartanya. Ternyata mereka lebih memilih keluarganya. Mendapatkan jawaban itu, seluruh tawanan perang di lembah Hunain pun dikembalikan pada keluarganya. [Republika.co.id]

Ads