Literasi kebencanaan di Indonesia sangat rendah

Ahmad Arif saat mengisi diskusi di Aula Kantor AJI Banda Aceh, Kamis (27/12). (ist)
--Ads--

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Penulis buku Jurnalisme Bencana, Ahmad Arif menyebutkan bahwa tingkat literasi kebencanaan di Indonesia cukup rendah.

Menurut survey, kata dia, Indonesia menduduki peringkat nomor dua terakhir dari 61 Negara yang tingkat literasinya paling rendah. Menurutnya, hal ini menjadi persoalan jika tidak dihubungkan dengan penguranagan resiko bencana.

“Literasi bukan hanya membaca, tapi memahaminya. Makanya hoaks sangat cepat menyebar di Indonesia,” ujarnya saat mengisi diskusi Literasi Kebencanaan di Kantor AJI Banda Aceh, Kamis (27/12).

Ads

Apalagi, pengurangan resiko bencana di setiap media di Indonesia sangat kurang. Karena masih ada istilah bad news is good news.

“Kalau bencana hanya ditulis seperti event, maka media menjadi penghitung mayatnya saja, seharunya media dapat menulis hal kebencanaan yang memang dapat dipelajari dan menjadi edukasi,” katanya.

Ahmad Arif menyebutkan, lemahnya literasi di Indonesia membuat banyak orang tidak mengetahui Indonesia rawan terhadap gempa dan tsunami. Terutama di Aceh, bahwa sebelumnya pernah terjadi tsunami.

Berdasarkan hasil catatannya, para ahli geologi dan arkelogi telah menemukan jejak tsunami di Aceh. Ini membuktikan tsunami telah beberapa kali menerjang provinsi ujung barat Indonesia itu. Namun karena pengaruh literasi yang terputus menimbulkan ketidaktahuan masyarakat Indonesia ketika gempa besar disusul gelombang tsunami.

Arif mencontohkan, seperti  kampung runtuh di Kelurahan Talise, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Tsunami yang menerjang pesisir Palu pada 28 September 2018 lalu ternyata jauh sebelumnya tsunami juga pernah terjadi di sana.

Cerita tentang tsunami masa lalu itupun ditulis Arif 2012 lalu. Orang Palu menyebut Bombatalu untuk tsunami dan nalodo untuk likuefaksi. Tapi pengalaman itu tidak mampu menyelamatkan masyarakat disaat tsunami menerjang pesisir Sulteng September 2018 lalu.

“Padahal di Palu masih banyak saksi hidup yang pernah merasakan tsunami masa lalu, namun pengtahuan ini yang tidak dirawat oleh warga di sana,” sebut Arif yang juga merupakan jurnalis Kompas.

Namun demikian, kata Arif, cerita ini berbanding terbalik dengan masyarakat Kepulauan Simeulue, Aceh. Mereka di sana masih menjaga erat kearifan lokal literasi kebencanaan.

“Pengetahuan lokal masih dijaga diwariskan secara turun temurun. Misalnya di disebut Smong untuk tsunami.  Ini yang membuat masyarakat di sana bisa selamat walaupun rumahnya hancur,” imbuhnya.

Ahmad Arif tak menampik literasi di Indonesia sangat buruk. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh World’s Most Literate Nations tahun 2006. Indonesia peringkat ke 60 dari 61 negara yang diteliti.

“Sehingga kita kurang tau mana hoax dan benar. Sehingga ketidaktahuan dan memahami ini menjadi masalah,” jelasnya. [Randi/rel]

Ads