Sambai Oen Peugaga Lalapan yang Bertahan Dilingkaran Junk Food

Sambai Oen Peugaga
Sambai Oen Peugaga. (Kanal Aceh/Randi)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Satu persatu pria paruh baya mendatangi lapak Juliana (52) yang menjual sambai (sambal) oen peugaga. Lalapan yang diolah dari 44 dedaunan itu kembali hadir menyapa penggemarnya di bulan ramadan.

Letak etalase jualan Juliana memang tidak strategis. Di samping kiri, kanan dan depannya, banyak pedagang takjil menjajakan aneka makanan yang sering dijumpai.

Namun, etalase miliknya begitu berbeda, tumpukan berbagai dedaunan yang diolah menjadi satu, cukup menyita mata pemburu takjil. Juliana tidak sendiri, ada 6 gerobak lagi yang menjual sambal oen peugaga dari puluhan pedagang di Jalan Imam Bonjol atau Garuda, Peunayoung, Banda Aceh.

Ads

Baca: Sambai Oen Peugagah masih eksis di bulan ramadhan

Melestarikan makanan tradisional memang sebuah keharusan. Sambal oen peugaga yang diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan Aceh dulu, nasibnya tidak seperti kuliner kekinian. Yang selalu ada jika bulan ramadan usai.

Meskipun dicap sebagai makanan yang hanya hadir saat ramadan, penjualan kudapan ini tetap laris manis. Uniknya, penjual makanan warisan indatu ini rata-rata digemari berusia lanjut. Bukan berarti kalangan milenial tidak menyukainya, tapi dinilai hanya sebagian kecil.

“Rata-rata (pembeli) memang orang tua, itu dari bulan puasa ke bulan puasa berikutnya, kalau anak muda, jarang,” kata seorang pedagang sambal oen peugaga, Juliana saat ditemui, Selasa (7/5).

Juliana mengakui, dulu banyak yang menjual sambal ini saat ramadan. Tapi, kini satu persatu mereka meninggalkannya, dan beralih menjual makanan lain. Sebab, selain bahan baku yang sulit dicari, pasar penjualannya juga hanya dikalangan tertentu.

Juliana tak khawatir walaupun banyak makanan takjil yang berbagai bentuk dan rasa, bisa memikat kemudian mengalihkan penggemar sambal ini ke makanan lainnya.

“Tidak (tak khawatir). Makanan ini sudah ada peminatnya, buktinya seberapa saya jual, ya habis,” ujarnya. Meski berlabel sambal, makanan ini pada dasarnya menyerupai panganan urap. Atau bisa di bilang urap khas Aceh.

Setiap jenis daun yang digunakan dalam meracik sambai oen peugaga memiliki khasiat tersendiri. Jenis daun itu yakni, daun jeruk purut, daun mengkudu, daun peugagah, daun sigeuntot, daun lawah dan puluhan jenis daun lainnya.

Tapi, sekarang tak mudah mendapatkan 44 jenis daun itu. Kalau pun dapat, tapi tidak banyak. “Mungkin itulah alasannya kalau oen peugagah ini jarang dijual kalau bukan di bulan Puasa,” sebutnya.

Cara membuat makanan ini, tidak sembarangan dicampur. Harus mempunyai keahlian. Jika tidak, rasanya dan aromanya bisa menyengat. Harus terampil tak boleh asal asalan.

Pertama-tama, daun yang sudah dicuci bersih, kemudian dicincang tipis-tipis dan dilumuri dengan kelapa parut atau giling. Sebelumnya kelapa itu harus diaduk dulu bersama rajangan bawang merah, cabai merah, bunga kala, cabai rawit dan asam sunti yang dihaluskan.

Untuk lebih gurih, taburi bawang goreng, kacang goreng atau kemiri goreng yang sudah dihaluskan. Sambai siap disajikan. Aromanya harum, rasanya unik, gurih, pedas dan sedikit asam. Soal harga lalapan ini cukup bersahabat, hanya Rp 5.000 per porsinya. [Randi]