Mengenal Dinasti-Dinasti Keturunan Turki

Ilustrasi. (FMNews)
--Ads--
loading...

(KANALACEH.COM) – Dinasti Thulun merupakan salah satu contoh khas dinasti yang berdiri setelah reruntuhan kekhalifahan besar, juga manifestasi awal munculnya bangsa Turki dalam kekuasaan. Munculnya dinasti ini diikuti oleh dinasti keturunan Turki lainnya.

Namun, umurnya tidaklah panjang. Tanpa basis kebangsaan yang kuat di tanah yang mereka kuasai, Dinasti Thulun akhirnya kandas dan Mesir kembali dalam genggaman Dinasti Abbasiyah pada 905 M.

Selang berapa tahun kemudian, muncul dinasti Turki lainnya dari Fergana, yakni Dinasti Iksidiyah yang didirikan di Fusthat, Mesir. Pendiri dinasti ini adalah Muhammad Ibn Thughj (935 M-946 M). Ibn Thughj setelah berhasil membereskan kekacauan di Mesir mendapatkan anugerah gelar kebangsawanan ala Persia, ikhsyid, yang diberikan oleh Khalifah al- Radi dari Dinasti Buwaih pada 939 M.

Ads

Dinasti Iksidiyah pernah menguasai Suriah, Palestina, dan Hijaz. Dinasti ini berhasil mempertahankan Mesir dan Suriah dari serangan dinasti kecil lainnya, yakni Dinasti Hamdaniyah. Namun, Dinasti Iksidiyah tidak bertahan lama dan kehilangan kekuasaan atas negerinya dan menyerah kepada Dinasti Fatimiyah.

Walaupun Dinasti Iksidiyah telah berakhir, masih ada dinasti kecil yang bertahan, yaitu Dinasti Hamdaniyah. Dinasti Syiah yang terletak di Irak itu didirikan oleh Hamdan Ibn Hamdun pada 929 M. Dinasti Hamdaniyah me milih Mosul di Irak utara sebagai ibu kota. Di bawah pimpinan Sayf al- Dawlah (944 M-967 M), dinasti ini berhasil merebut Aleppo dan Hims dari Dinasti Iksidiyah.

Sayf adalah pemimpin Hamdaniyah yang paling terkenal. Ia mencapai kemasyhuran karena mampu membangkitkan semangat perlawanan ten tara untuk bang kit melawan kerajaan Kristen. Sayf mulai melakukan serangan-serangan secara periodik ke Asia Kecil (Turki) melawan Yunani dan berhasil merebut kota-kota perbatas an, salah satunya Mar’asy. N

amun, penerusnya, Sa’id al-Dawlah (991 M- 1001 M), ternyata merupakan pengikut Dinasti Fatimiyah. Dalam keadaan tertekan, akhirnya Dinasti Hamdaniyah menyerah kepada Dinasti Fatimiyah pada 1001 M.

Dinasti-dinasti kecil tidak hanya muncul di bagian Barat, tapi juga di belahan dunia Timur. Dinasti yang pertama berdiri di timur Baghdad adalah Tahiriyah yang didirikan oleh Thahir Ibn al-Husayn dari Khurasan. Thahir adalah keturunan budak Persia yang diangkat sebagai gubernur Khurasan oleh Khalifah al-Ma’mun dari Dinasti Abasiyah pada 820 M.

Meski secara formal para penerus Thahir adalah pengikut Abbasiyah, mereka memperluas wilayah kekuasaannya hingga perbatasan India dan memindahkan pusat pemerintahan ke Naisabur.

Kemudian, muncul Dinasti Saffariyah yang bermula di Sijistan dan berkuasa di Persia selama 41 tahun (867 M-878 M). Saffariyah didirikan oleh Yaqub Ibn al-Laits al-Shaffar. Awalnya, al-Saffar hanyalah seorang pandai besi yang dipercaya oleh gubernur Sijistan untuk memimpin pasukan.

Dia berhasil memperluas wilayah kekua saannya hampir ke seluruh Persia hingga pinggir an India, bah kan mengancam kekuasaan Abasiyah. Dinasti ini akhirnya takluk oleh Dinasti Samaniyah.

Dinasti Samaniyah (874 M-999) dibangun oleh Nashr Ibn-Ahmad (874 M-892 M) yang merupakan cicit dari Saman, bangsawan Persia penganut Zoroaster dari Balkh. . Pada 900 M, Samaniyah merebut Khurasan dari Saffariyah dan memperluas wilayah hingga Sijistan, Karman, Jurjan, Rayyi, Tabaristan, dan Transoksiana.

Namun, dinasti Iran ini harus takluk kepada dinasti yang didirikan oleh para pengembara Turki, Dinasti Ghaznawi. Dinasti Ghzanawi didirikan oleh Subuktigin (976 M-997 M) yang memperluas wilayah kekuasaannya hingga meliputi Peshawar, India, dan Khurasan di Persia.

Dinasti Ghaznawi adalah dinasti yang berhasil memberikan pengaruh Islam di India. Kebangkitan Ghaznawi merepresentasikan kemenangan orang Turki dalam melawan kelompok Persia. [Republika.co.id]