Pengrajin Alat Bubut Tradisional di Singkil Tanpa Penerus

Alupani, pengrajin yang masih menggunakan alat bubut tradisional di Singkil. (Kanal Aceh/Rahmat)
--Ads--
loading...

Singkil (KANALACEH.COM) – Perakitan atau bubut manual yang di pergunakan oleh masyarakat Aceh Singkil pada jaman dulu dalam membuat bermacam alat rumah tangga, seperti dari Rapa’i, alat dapur, cekhano atau tempat sirih bagi pesta pernikahan dan lainnya, sudah semakin langka.

Saat ini bahkan hanya tinggal satu orang lagi, yang bisa memakainya yakni Alupani (60) asal desa ujung bawang. Dengan umur yang tidak muda lagi, dia tetap semangat menjalani usaha ini.

Seiring perkembangan zaman yang modern, perakitan tradisional ini perlahan mulai terkikis oleh waktu. Karena telah digantikan dengan mesin bubut tekhnologi baru.

Ads

“Saya sudah menggeluti pekerjaan ini dari tahun 1975, yang saya dapat dari almarhum ayah mertua saya, dan mungkin tinggal saya yang masih menggunakan alat tradisional ini,” ujar Alupani saat ditemui, Kamis (16/5).

Namun, karena kendala dengan biaya pembelian bahan utama yang sulit didapat, serta modal yang tidak ada, Alupani hanya bekerja apa bila ada yang memesannya.

“Sebenarnya saya berharap pemerintah daerah kiranya dapat membantu modal usaha saya ini, agar bisa tetap melestarikanya,” harapnya.

Alupani bahkan bisa membuat 3 hingga 4 buah alat Rapai dalam sehari, dengan alat seadanya. Ditanya mengenai apakah ada penerus usaha ini yang di turunkan ke anaknya, ia menjawab tidak ada. Karena anaknya semua memiliki profesi lain.

“Apabila ada yang mau berguru kepada saya, dengan senang hati akan saya ajari karena saya ingin setelah saya tiada, ada yang bisa melanjutkan agar tidak hilang,” terang Alupani. [Rahmat]