Kurangi Pengangguran, Pasar Sore dibuat di Subulussalam

(Kanal Aceh/Satria)
--Ads--
loading...

Subulussalam (KANALACEH.COM) – Pemuda dan Kepala Desa Pasar Panjang, Kecamatan Simpang Kiri bersama tokoh masyarakat pemilik tanah yakni Sridotomo, menggagas dan membuat pasar tradisional di Desa Pasar Panjang, Subulussalam.

Ketua Pemuda Desa Pasar Panjang Marlon Tumangger yang juga sebagai ketua pengelola pasar itu, mengatakan tujuan dibentuknya pasar tradisional itu untuk mengurangi pengangguran bagi pemuda, khususnya pemuda desa setempat.

“Selain itu, supaya akses masyarakat di tiga desa yakni Desa Pasar Panjang, Mukti Makmur dan Makmur Jaya jika ingin berbelanja tidak jauh-jauh lagi ke Subulussalam,” kata Marlon dilokasi Pasar Sabtu (21/9).

Ads

Kepala Desa Pasar Panjang, Samsudin Lingga menyebutkan, pasar itu dibuka setiap sore dua kali seminggu yakni hari Kamis dan Sabtu. Ia menuturkan, baru dibuka sekitar satu bulan, tapi sudah ramai pengunjung baik pembeli maupun pedagang.

“Selaku Pemerintahan Kampong saya akan percayakan kepada pemuda untuk mengelola Pasar Kamis Sabtu ini, namun nanti kami akan duduk dulu dan membicarakan hal ini bersama tiga desa dan pihak terkait,” kata Samsudin.

Sementara itu Kepala Desa Mukti Makmur, Gunawan yang ditemui  mengaku merasa mendukung kehadiran pasar tersebut. “Hal yang baik, apa pun itu tetap kita dukung,” katanya.

Sridotomo yang biasa disapa Tomo, tokoh masyarakat Makmur Jaya pemilik tanah lokasi Pasar Tradisional Sore Kamis dan Sabtu itu mengaku, sudah mengijinkan tanah miliknya dipinjam pakai untuk lokasi pasar tradisional.

“Saya ingin hidup saya ini berarti, nanti biala Pasar itu sudah ramai, sudah padat, satu baris sawit saya itu kita tumbang gak apa-apa, saya gak punya kepentingan, gak ada kepentingan politik, nawaitu saya untuk masyarakat, untuk kepentingan orang banyak,”

“Aku punya cita-cita ramainya di Subulussalam supaya mengalir juga kemari (Bakal Buah), sampai kapan tanah saya dipakai, itu urusan nanti, yang penting maju dulu,” kata Tomo

Seorang warga, Kasih (45) mengaku senang dan sangat membantu masyarakat dengan adanya pajak tradisional tersebut.

“Sangat membantu lah, orang yang ingin ke pasar sudah dekat, kalau ada masyarakat sini yang gak bisa bawak motor, jadi bisa jalan kaki ke pajak, yang mau jualan pun sudah disediakan lapak jualan,” katnya. [Satria Tumangger]