Pasutri Dikukuhkan Jadi Profesor di Unsyiah

(Foto:Unsyiah)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Universitas Syiah Kuala kembali mengukuhkan tiga Profesor baru melalui Sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Rektor Unsyiah Profesor Samsul Rizal, di gedung AAC Dayan Dawood, Rabu (26/2). Mereka yang dikukuhkan adalah Profesor Khairul Munadi Profesor Taufik Fuadi Abidin, dan Profesor Fitri Arnia.

Menariknya, dua di antara tiga professor tersebut berasal dari Fakultas Teknik, bahkan dari Jurusan yang sama yaitu Jurusan Teknik Elektro. Mereka berasal dari rumah yang sama, karena keduanya merupakan sepasang suami istri yaitu Profesor Khairul Munadi dan Profesor Fitri Arnia. Sementara Profesor Taufik Fuadi Abidin berasal dari FMIPA Unsyiah.

Selanjutnya ketiga profesor tersebut membacakan orasi ilmiahnya. Di mulai dari Prof. Khairul Munadi dengan judul, Pengembangan Perangkat Cerdas Deteksi Dini Penyakit Berbasis Pencitraan Termal dan Deep Learning.

Ads

Lalu Prof. Taufik Fuadi Abidin judul Pemanfaatan Mechine Learning dan Teknologi Big Data dalam Proses Penambangan Informasi. Selanjutnya Prof. Fitri Arnia dengan judul Pengolahan Citra Digital untuk Restorasi Naskah Kuno dan Temu Kembali (Retrieval) Konten pada Media Daring.

Rektor dalam sambutannya mengungkapkan, setelah pengukuhan ini maka jumlah profesor Unsyiah menjadi 76 orang. Jumlah ini hanya 4,8 persen dari jumlah total dosen di Unsyiah.

Meskipun demikian, Rektor bersyukur karena pertumbuhan jumlah profesor Unsyiah dalam setahun terakhir cukup menggembirakan. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah profesor Unsyiah hanya 58 orang. Hal ini berarti, dalam 3 setahun telah terjadi pertumbuhan sebanyak 31 persen.

“Setelah hari ini, beberapa profesor baru sudah kembali menunggu untuk dikukuhkan dalam waktu dekat. Sementara itu, beberapa calon profesor lainnya sedang melengkapi persyaratan atau bahkan sedang menunggu keputusan dari Jakarta,” ucap Rektor.

Rektor juga menilai kepakaran ketiga Profesor ini sangat penting. Misalnya Prof. Khairul Munadi yang risetnya tentang pencitraan termal, yang merupakan metode pengamatan terhadap suatu objek melalui sensor termal, atau kamera termal, tanpa menyentuh objek yang diamati.

Gagasan utama dari Prof. Khairul Munadi adalah membangun perangkat cerdas dengan mengintegrasikan teknik thermography dan Deep Learning untuk mendeteksi dini penyakit, yang simtomanya terkait dengan perubahan suhu tubuh manusia.

Gagasan ini cukup potensial menjadi alternatif solusi untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus Corona.

“Target riset ini adalah menghasilkan perangkat deteksi dini, untuk penyakit kronis berbahaya dengan akurasi yang tinggi. Maka temuan ini diharapkan dapat diaplikasikan untuk membantu paramedis, atau individu untuk melakukan pengecekan penyakit secara mandiri,” ucap Rektor.

Begitu pula kepakaran Prof. Taufik Fuadi Abidin, yang risetnya mengenai pemanfaatan  machine learning dan teknologi big data. Hal ini sudah pernah diuji dalam proses penentuan halaman web dengan cepat dan akurat, meskipun dengan halaman web yang jumlahnya miliaran.

Prof. Taufik bahkan berhasil membangun web classifier, yang dimanfaatkan untuk menentukan secara cepat dan akurat halaman web tentang penyakit tropis menggunakan algoritma machine learning Support Vector Machine.

Salah satu kontribusi kepakaran Prof. Taufik  di bidang machine learning, yang secara langsung diaplikasikan di Unsyiah yaitu penentuan kategori Uang Kuliah Tunggal Berkeadilan (UKTB) mahasiswa, yang sesungguhnya adalah masalah klasifikasi atau supervised machine learning problem.

Seiring perkembangan dan kebutuhan era, kajian serta pemanfaatan machine learning dan big data akan berkembang sangat cepat di masa mendatang, karena bagaimanapun, volume data di segala bidang akan terus bertambah secara signifikan.

“Kepakaran  Prof. Taufik semakin diperlukan di masa mendatang. Dan Unsyiah sangat beruntung  memiliki beliau yang kepakarannya tentang machine learning serta big data, sedikit banyak telah diinduksikan kepada seluruh mahasiswa kita,” ucap Rektor.

Lalu kepakaran Prof. Fitri Arnia juga sangat penting untuk memahami latar belakang sejarah dari semua kejadian hari ini. Dokumen kuno mengandung informasi penting di masa lalu yang dapat membantu manusia untuk lebih memahami sejarah sebelumnya.

Prof. Fitri Arnia berhasil mendigitalkan naskah-naskah kuno, membinerisasikannya serta mengaplikasikan sistem pengenalan karakter optic untuk proses rekognisinya. Beliau menawarkan penggunaan asumsi histogram multipeak untuk mengantisipasi noise dan keabuan dokumen-dokumen kuno tersebut.

Beliau juga menawarkan teknik baru untuk pengenalan karakter Jawi, yaitu menggunakan Algoritme Tree Root. Sistem algoritme ini tidak menggunakan perhitungan matematika yang rumit, tetapi menggunakan proses klasifikasi sederhana, dan membutuhkan lebih sedikit memori penyimpanan.

“Bidang kajian ini memiliki urgensi yang tinggi, terutama untuk Aceh yang konon memiliki sejarah luar biasa, namun belum dieksplorasi secara optimal menggunakan teknologi informasi. Hal ini dapat dimulai dengan merestorasi dokumen dan naskah kuno yang sudah tersedia,” ucap Rektor. [Fahzi/rel]

 

View this post on Instagram

 

Aceh Selatan (KANALACEH.COM) – Hiu Paus dengan panjang 12 meter terlilit jaring oleh pukat nelayan, di Bakongan Timur, Aceh Selatan, Senin (24/2). . Satgas SAR Aceh Selatan, Mayfendri mengatakan, awalnya saat nelayan melemparkan jaring pukatnya di tengah laut dan hendak menarik kembali ke darat, tiba-tiba di dalam jaring itu terperangkap hiu paus. . “Saat nelayan melaut dan melepaskan jaring pukatnya tiba-tiba Hiu Paus terperangkap didalamnya,” kata Mayfendri melalui keterangannya. . Setelah dibawah ke bibir pantai, para nelayan itu melepaskan lilitan jaring yang melilit tubuh hiu paus tersebut. Tak berselang lama, jaring yang menjerat paus berhasil dilepaskan. Para nelayan itupun, langsung mendorong hiu paus ke tengah laut, dan melepaskannya. . “Setelah semua lilitan jaring pukat dilepas, langsung melepaskan kembali hiu paus ke lautan lepas dengan selamat,” ujar Mayfendri. . Ia juga mengungkapkan, bahwa para nelayan di Bakongan sudah mengerti bahwa hewan tersebut termasuk yang dilindungi. “Alhamdulilah nelayan kita sudah paham bahwa paus itu dilindungi,” ucapnya. [Rand] . .video: Satgas SAR Aceh Selatan. . #acehselatan #paus #hiu #mamalia #aceh #dlhk #bksda #whale #shark #fish #beach #abdya #naganraya #acehsingkil #pidie #acehutara #pidiejaya #bireuen #sabang #meulaboh #acehjaya #acehbesar #takengon #gayolues #acehtimur #langsa

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on