3 Tahun Terbengkalai, Pasar Rp 4 Miliar di Abdya Akhirnya Ditempati Pedagang

Imum Syik Kuta Bahagia saat mempesijuk Pasar Rakyat di Kuala Batee. (Kanal Aceh/Jimi Pratama)
--Ads--
loading...

Blangpidie (KANALACEH.COM) – Setelah 3 tahun terbengkalai, pasar rakyat di Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya (Abdya), akhirnya mulai ditempati oleh pedagang.

Bangunan pasar rakyat tersebut dibangun sejak 2017 dengan total anggaran Rp 4 miliar, sebelumnya penyebab belum difungsikannya pasar rakyat ini akibat hibah dari Kementrian untuk Pemkab Abdya belum selesai.

“Jika pasar ini masih menjadi aset pusat kita tidak bisa memperbaiki jika ada kerusakan. Akan tetapi, kalau sudah menjadi aset Pemkab Abdya maka kita bisa mempergunakan dana APBK untuk pembangunannya sampai sempurna,” kata Camat Kuala Batee, Khairuman.

Ads

Dirinya juga berharap kepada Disperindagkop Abdya agar mempercepat proses pengalihan aset dari Kementrian Koperasi menjadi aset Pemkab Abdya.

“Kalau sudah menjadi aset Pemkab kan sangat mudah untuk memperibaiki jika nanti ada kerusakan, ataupun ingin menambah sisi bangunan,” sebutnya.

Khairuman mengimbau kepada seluruh pedagang untuk menjaga pasar ini dengan baik agar dan dikelola dengan benar. “Mengenai lantai belum berkeramik dan atap yang bocor itu akan kita cari solusinya nanti,” sebutnya.

Sebelum digunakan, terlebih dahulu pasar tersebut di peusijuk oleh imum Syik Pasar Kota Bahagia.

“Hari ini seluruh pedagang yang ada dilokasi pasar lama telah dipindahkan semua ke tempat yang baru dengan total 50 kios yang telah tersedia,” kata Khairuman. [Jimi Pratama]

 

View this post on Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Bardan Sahidi mengkritik kinerja penasehat khusus (Pensus) Pemerintah Aceh. Ia menilai kinerja tim Pansus hanya membenturkan lembaga DPRA dengan daerah. Bardan bilang kehadiran Pensus ini tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Aceh yang memberhentikan sekitar 4.227 tenaga kontrak yang ada diseluruh Aceh. Tenaga Kontrak itu mulai dari OB, Cleaning Service, tukang antar surat dan tenaga-tenaga lainnya. Dimana tenaga kontrak tersebut juga menggantungkan hidupnya dari pekerjaan itu yang dibayar hanya Rp 1,3 juta. Namun, mereka terpaksa di ‘geser’ dan digantikan dengan Pensus yang gajinya mulai dari Rp 4 juta – Rp 7 juta. “Di awal tahun anggaran 2020 yang lalu, ada 4.227 tenaga kontrak yang menggantungkan harapan hidupnya dengan gaji Rp 1,3 juta, di cuci gudang oleh Sekda, saat bersamaan itu muncul 200 pensus,” kata Bardan saat konfrensi pers di DPRA, Rabu (22/7). Para pensus ini, kata Bardan, kemudian dititipkan ke dinas-dinas. Namun perjalanannya, lanjut Bardan, tim pensus ini berubah jadi buzzer Pemerintah Aceh bahkan ada yang menjadi makelar. Selengkapnya klik disini www.kanalaceh.com atau swipe story #bandaaceh #acehbesar #acehjaya #acehbarat #naganraya #abdya #acehselatan #subulussalam #acehsingkil #pidie #pidiejaya #bireuen #acehutara #lhokseumawe #acehtimur #langsa #acehtamiang #gayolues #acehtengah #benermeriah #sabang #buzzer #makelar #sekda #pensus #anggaran #cucigudang #tenagakontrak #pemkoaceh #dpra

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on