Memutus Rantai Antrean Kendaraan di SPBU

Pengisian BBM. (dok. Pertamina)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Tiga pekan terakhir, Pemerintah Aceh, Pertamina dan Hiswana Migas Aceh, sudah meluncurkan program stikering untuk kendaraan yang menggunakan BBM bersubsidi. Tujuannya, agar penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran.

Peluncuran stiker itu dikhususkan bagi pengendara pengguna BBM subsidi jenis premium dan solar. Dan di launching pada Rabu (19/8) lalu. Kini, stiker itu sudah terpasang di 121.326 unit kendaraan. Dengan rincian 53.701 ditempel di kendaraan berbahan bakar premium dan sisanya sebanyak 67.625 di kendaraan pengguna solar.

Unit Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo menyebutkan, sejauh ini dampak positif program, makin kentara. Penyaluran BBM subsidi solar dan premium, makin lancar. Karena hanya kendaraan yang ditempel stiker yang dapat mengisi Premium dan Solar. Alhasil mengurangi antrian di SPBU.

Ads

Konsumsi Solar dan Premium juga, kini makin terarah tepat sasaran. Ini diindikasikan dari semakin berkurangnya komposisi produk Solar dan Premium dibanding produk BBM berkualitas.

Sebelum program, komposisi konsumsi Premium di Aceh mencapai 26,6 persen dari total konsumsi BBM jenis bensin. Setelah program dijalankan, komposisinya turun menjadi 25,4 persen. Sebaliknya, komposisi konsumsi Pertamax meningkat dari 12,9 persen menjadi 14,4 persen setelah program.

“Kami tenggarai, perubahan komposisi konsumsi ini terjadi karena kendaraan-kendaraan mewah tidak bersedia ditempel stiker. Sehingga beralih menggunakan Pertamax,” kata Roby beberapa waktu lalu.

Seorang sopir angkutan umum (labi-labi), Hasmidin mengakui, program stikering bagi kendaraan cukup dirasakan manfaatnya. Kata dia, sebelum ada program tersebut, ia harus berjibaku dengan ratusan kendaraan lainnya untuk mengantre di salah satu SPBU di kawasan Beurawe, Banda Aceh sebelum beroperasi, hanya untuk mendapatkan BBM premium.

Bahkan, ia rela mengantri hingga 2 jam lamanya. Hal itu dilakukannya hanya untuk mendapatkan BBM premium sesuai dengan pendapatan hariannya.

(Dok. Pertamina)

“Dulu iya, pernah hampir dua jam antre, kalau cepat kita datang tetap antre juga,” kata Hasmidin saat ditemui di Terminal Keudah, Banda Aceh, Rabu (2/9).

Namun setelah di kendaraannya terpasang stiker, untuk mendapatkan premium, kata dia semakin mudah. Bahkan, selama stiker itu terpasang, Hasmidin hanya mengantre paling lama 15 menit di SPBU yang sama.

Hal itu juga bisa menghemat waktunya untuk kembali beroperasi. Meski terpasang stiker, Hasmidin tak merasa malu. Bahkan ia mengapresiasi langkah Pemerintah Aceh dan Pertamina untuk mengadakan program ini.

“Kita cukup terbantu dengan stiker ini. Apalagi seperti kami ini, pendapatan tidak seberapa, tapi bisa mendapat premium dengan mudah. Kami juga meminta agar program stiker ini berlanjut terus,” ujar Hasmidin.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Juandi (46), warga Lamteumen Timur. Pemilik kendaraan Toyota Kijang Kapsul keluaran tahun 2000 ini mengaku tidak malu dengan ditempelnya stiker di kaca depan mobilnya. Ia menilai, stiker tersebut memang diperuntukkan bagi kendaraan seperti miliknya.

Senada dengan Hasmidin, Juandi juga merasakan ada dampak setelah dipasangnya stiker tersebut saat mengisi bahan bakar. Selama ini dia cukup lama mengantre, kini untuk mendapatkan BBM subsidi jenis solar, semakin mudah.

“Memang stiker ini khusus buat kendaraan seperti punya saya. Kalau kendaraan saya keluaran tahun 2019, tidak mungkin saya pake lagi yang subsidi, kan gak pas lagi dengan mesin,” ujarnya.

Meski begitu, Juandi juga memiliki satu unit mobil lainnya yaitu jenis Toyota Fortuner keluaran tahun 2018. Namun mobil tersebut tidak terpasang stiker, karena ia menilai tidak layak.

“Kalau mobil yang satu lagi memang selalu pakai Pertamax, kalau pakai premium malu kita dilihat orang. Kalau saya menilai, memang stiker itu dikhususkan buat yang tidak mampu juga benar, tapi juga khusus buat kendaraan tua dalam artian tahun rendah, itu kalau menurut saya,” ucapnya.

Namun dirinya juga mendukung langkah Pertamina untuk melakukan program tersebut. Agar mobil yang keluaran tahun tinggi tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi.

“Kita dukung. Artinya, BBM subsidi itu harus diperuntukkan bagi yang tidak mampu dan kendaraan tahun rendah,” cetusnya.

Polusi Berkurang

Kepala Bidang Tata Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh, Cut Safarina Yulianti mengatakan, banyaknya kendaraan yang beralih ke perta series sangat berpengaruh terhadap kurangnya polusi udara.

Menurutnya, dengan mengunakan BBM yang memiliki nilai oktan tinggi atau atau bakal ramah lingkungan, menjadikan perfoma dari mesin kendaran lebih optimal dan tanpa polusi yang ditimbulkan,

“Setiap pemilik kendaraan agar kendaraannya tetap dirawat agar tidak menimbulkan polusi dengan mengunakan bahan bakar yang ramah lingkungan” katanya.

Kebijakan mengunkan stiker ini tentu akan membatasi pengunaan premium, pengunaan premium akan berkurang,  mobil tanpa stiker akan beralih ke perta series  lainnya.

(Dok. Pertamina)

Sehingga tidak ada lagi antrean panjang kendaraan pengguna premium, dan tidak terjadi kemacetan. Sehinga hal ini bisa mengurangi polusi udara di titik tersebut.

“Kika ditinjau dari segi lingkungan, kegiatan ini berpengaruh banyak,  karena penguna kendaran mulai beralih mengukanan non subsidi,”

“Ini sangat berpengaruh bagi kondisi udara di Kota Banda Aceh, karena mereka sudah mengunakna BBM non subsidi dan berpangaruh pada kerja mesin kendaraan,  sehinga mesin bisa bekerja  lebih optimal dan dampak yang ditimbul dari asap kendaraan bisa di minimalisir,” sebutnya.

Mengawasi

Unit Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo mengatakan, program stikering tersebut akan terus di memonitor dan mengawasi penerapan program ini di lapangan. Untuk memastikan bahwa penyalurannya tepat sasaran.

“Kami menerima segala masukan dan kritik konstruktif dari semua pemangku kepentingan. Agar tujuan utama dari program yaitu BBM subsidi tepat sasaran, bisa kita capai bersama,” kata Roby.

Roby menegaskan, program stiker ini tidak berarti pengurangan penyaluran Premium dan Solar.

“Masyarakat tidak perlu khawatir, Pertamina tetap menyalurkan Solar dan Premium sesuai amanah dan kuota pemerintah. Program ini bukan mengurangi, namun memastikan penyaluran BBM tepat sasaran kepada yang lebih membutuhkan,” tuturnya. 

Sebelum program stikering ini dilakukan, komposisi konsumsi Premium di Aceh mencapai 26,6 persen dari total konsumsi BBM jenis bensin.

Setelah program dijalankan, komposisinya turun menjadi 25,4 persen. Sebaliknya, komposisi konsumsi Pertamax meningkat dari 12,9 persen menjadi 14,4 persen setelah program.

“Kami tengarai, perubahan komposisi konsumsi ini terjadi karena kendaraan-kendaraan mewah tidak bersedia ditempel stiker. Sehingga beralih menggunakan Pertamax,” kata Roby.

Di sisi BBM diesel juga menunjukkan tren serupa. Porsi konsumsi Solar turun dari sebelum program 98,3 persen, menjadi 97 persen setelah penerapan program. Kebalikannya, komposisi konsumsi Dex naik dari sebelumnya 1,4 persen menjadi 2,7 persen setelah program. [Rands]

Ads