Derita Lumpur Belum Usai di Pidie Jaya

Kondisi jalan antar desa di Kecamatan Meurah Dua setelah dibersihkan dan menyisakan tumpukan lumpur di pinggir jalan, Sabtu, 4 April 2026. (Foto: Dani Randi)

Munjir salah satu warga yang masih bertahan meski setengah rumahnya hilang tersapu banjir. Ia beralasan takut untuk meninggalkan rumah karena ingin mencari barang yang tertimbun sembari membersihkan sisa-sisa lumpur dari dalam rumah.

Rasa takut juga kerap menghantui Munjir saat hujan turun karena letak rumahnya berdekatan dengan bibir Sungai Krueng Meureudu, hanya berjarak sekitar 20 meter. “Saya tidak ambil (Huntara). Fokus untuk bersihkan rumah saja sedikit-sedikit,” ucapnya.

Bagi warga yang telah mendapatkan Huntara, pola hidup mereka kini terbelah. Huntara hanya digunakan sebagai tempat memejamkan mata di malam hari. Begitu matahari terbit, mereka segera kembali ke rumah lama mereka yang rusak untuk melanjutkan ritual harian yang melelahkan yaitu mengeruk lumpur.

Sebuah siklus tanpa henti yang dilakukan dengan harapan suatu saat mereka bisa kembali tinggal di rumah asli mereka dengan layak. Warga yang rumahnya masuk kategori rusak berat hanya bisa menunggu terkait kepastian hunian tetap (Huntap).

“Sampai saat ini masih kita bersihkan (lumpur dari dalam rumah) dengan alat seadanya. Kalau bukan kita (pemilik rumah) yang bersihkan siapa lagi?,” kata Habibi warga Desa Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua.

Warga di Meunasah Raya saat mengecek kondisi rumahnya yang masih tertimbun lumpur.

Habibi, Munjir dan warga lainnya di dua kecamatan itu khususnya yang masih berjibaku dengan lumpur berpesan agar pembersihan yang digalakkan pemerintah saat ini lewat skema cash for work (CFW) atau padat karya tunai bukan hanya menyasar fasilitas umum saja, melainkan rumah-rumah warga.

Mereka juga meminta agar ada pengerukan di pekarangan rumah dan menjauhkan lumpur dari kediaman warga. Jika tidak, kalau hujan turun lumpur tersebut akan kembali masuk ke dalam rumah.

“Pemerintah harusnya bertanggung jawab jangan dilepas semua sama warga untuk membersihkan lumpur ini. Kami ini korban,” ucapnya.

Keluarkan Biaya

Warga Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Amri (48) harus merogoh kocek hingga Rp8 juta demi mengembalikan kelayakan huniannya yang sempat tenggelam dalam lumpur.

Meski struktur bangunan rumahnya tidak termasuk kategori rusak berat, terjangan banjir lumpur tersebut telah melumpuhkan fungsi rumah dan menghancurkan perabotan di dalamnya.

Proses pembersihan dilakukan Amri secara swadaya dengan melibatkan 8 pemuda desa setempat. Tanpa bantuan alat berat, mereka berjibaku melawan pekatnya material sisa banjir hanya dengan mengandalkan alat seadanya seperti sekop dan cangkul.

Salah satu ruas jalan di Desa Meunasah Raya masih tertimbun lumpur, Sabtu, 4 April 2026.

“Kalau perkiraan lebih Rp 8 juta untuk bersihkan di dalam rumah saja, itu 2 kali. Yang kerja pemuda desa sini,” kata Amri saat ditemui di rumahnya, Rabu, 18 Maret 2026.

Proses pembersihan pertama dilakukan pada awal Februari 2026 selama sepekan, lalu yang kedua dilakukan awal bulan Ramadhan tahun ini. Amri juga harus mengeluarkan uang tambahan untuk mengecat tembok rumahnya karena berbekas noda lumpur.

Pascapembersihan, Amri melakukan langkah antisipasi dengan membangun tanggul darurat. Ia menyusun material lumpur sedemikian rupa hingga membentuk benteng setinggi 50 sentimeter tepat di depan pintu masuk.

Sekat ini menjadi satu-satunya harapan untuk membelah aliran air agar tidak kembali masuk ke dalam rumah jika hujan deras turun secara tiba-tiba.

Related posts