Derita Lumpur Belum Usai di Pidie Jaya

Kondisi jalan antar desa di Kecamatan Meurah Dua setelah dibersihkan dan menyisakan tumpukan lumpur di pinggir jalan, Sabtu, 4 April 2026. (Foto: Dani Randi)

Namun, rasa aman bagi warga Desa Meunasah Mancang masih menjadi barang mewah. Kekhawatiran Amri terus membuncah setiap kali melihat awan mendung tiba. Masalah utama kini bergeser pada sisa pembersihan jalan di lingkungan sekitar.

Tumpukan lumpur yang memanjang di bahu jalan belum sepenuhnya dievakuasi dan sewaktu-waktu dapat mencair kembali menjadi aliran lumpur baru jika tersapu air hujan.

Sejauh ini, kata Amri proses pembersihan rumah juga pernah dilakukan oleh aparat TNI. Namun tidak sampai tuntas. “Ada (keterlibatan TNI dalam proses pembersihan rumah warga). Tapi tidak sampai selesai karena ini berat ya,” ucapnya.

Menurutnya warga lainnya yang punya kesanggupan dari sisi ekonomi lebih memilih untuk mempekerjakan orang untuk membersihkan rumah mereka dari pada menunggu kebijakan pemerintah untuk penanganan lumpur.

“Kalau kita masih nunggu ya lumpur ini tetap gini-gini saja. Saya sudah coba (bersihkan lumpur sendiri) tapi ya memang tidak sanggup, ini tebal,” katanya.

Hal itu juga dialami Akhyar (39), warga Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang ini terpaksa membayar warga untuk membersihkan rumahnya dengan tipe 130. Saat itu, kata Akhyar ia melakukan hal itu karena ketidakpastian tempat tinggal pascabanjir.

Jalan antar desa di Meunasah Mancang.

Ia membayar warga setempat sebesar Rp6 juta yang bekerja selama 6 hari pada awal Januari 2026 lalu. Ayah 3 anak ini melakukan itu karena keluarganya tidak mendapatkan tenda pengungsian dan keluarganya memilih mengungsi ke rumah saudara di Langsa.

“Kita dulu gak dapat tenda, jadi mengungsinya ke rumah saudara di Langsa. Makanya kita bayar lah orang untuk bersihkan rumah karena memang lumpurnya 1 meter lebih di dalam,” kata Akhyar, Kamis, 19 Maret 2026.

Mereka yang membersihkan lumpur dengan mengeluarkan uang pribadi berharap pemerintah juga membuat program khusus untuk membersihkan pekarangan dan rumah warga yang masih banyak tertimbun lumpur.

“Ada juga warga memang sudah tidak mampu lagi dari tenaga atau sisi ekonomi, ya sudah ditinggalin begitu saja rumahnya, harusnya pemerintah melihat ini juga sebagai masalah yang harus ditangani,” katanya.

Related posts