Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Perhelatan musik etnik bertajuk “Gema Tanah Rencong: Harmoni Etnik Aceh (Tribute to Nyawoung)” resmi dibuka di Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh, Minggu (24/5/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari hingga Senin (25/5) itu menjadi ruang pertemuan lintas generasi untuk merayakan sekaligus melestarikan musik etnik Aceh.
Festival tersebut digelar oleh Komunitas Endatu Kreatif sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan grup musik etnik legendaris Aceh, Nyawoung, yang karya-karyanya telah menginspirasi banyak musisi di Tanah Rencong.
Pembukaan acara dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh Piet Rusdi, Ketua Majelis Seniman Aceh Chairiyan Ramli, Ketua Komunitas Endatu Kreatif Rizqi Mubarak, serta sejumlah pegiat seni dan budaya Aceh.
Pada hari pertama, suasana Taman Seni dan Budaya Aceh dipenuhi alunan musik tradisional yang berpadu dengan sentuhan modern melalui Festival Musik Etnik Aceh. Sebanyak 13 grup musik tampil membawakan karya khas masing-masing, termasuk lagu-lagu legendaris Nyawoung.
Setiap grup diwajibkan membawakan satu dari 10 lagu Nyawoung, sekaligus mengeksplorasi kekayaan instrumen tradisional Aceh dalam kemasan pertunjukan yang lebih segar dan kreatif. Atmosfer festival terasa hangat dan penuh semangat. Generasi muda tampak antusias menikmati penampilan para musisi, sementara para maestro musik etnik turut hadir memberi warna dan inspirasi.
Ketua Komunitas Endatu Kreatif Rizqi Mubarak mengatakan, komunitas yang berdiri sejak 2022 itu memiliki komitmen kuat untuk melestarikan dan memajukan seni budaya Aceh.
Menurut Rizqi, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kategori Pemberdayagunaan Ruang Publik dalam Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Kami mengajak para musisi dan seniman Aceh untuk ikut serta dalam program ini. Kementerian Kebudayaan membuka peluang bagi perorangan maupun komunitas untuk mengelola dana kebudayaan melalui pengkaryaan, pertunjukan, dan pendokumentasian demi pelestarian serta pemajuan kebudayaan di daerah masing-masing,” ujar Rizqi.
Ia menjelaskan, tema besar Tribute to Nyawoung dipilih karena grup tersebut menjadi inspirasi utama bagi banyak musisi etnik Aceh. “Kami di komunitas ini memiliki rasa yang sama, sama-sama berkiblat kepada Nyawoung dengan karya-karya terbaik mereka yang menginspirasi banyak musisi Aceh saat ini,” katanya.
Selain festival musik, rangkaian kegiatan juga menghadirkan Seminar Musik Etnik Kolaborasi pada hari kedua dengan target 150 peserta. Seminar itu menghadirkan narasumber Moritza Thaher, Jauhari Samalanga, dan Joel Kande.
Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai upaya menjaga identitas musik tradisi di tengah perkembangan zaman, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas disiplin seni agar musik etnik Aceh semakin dikenal di tingkat nasional.
Puncak acara akan berlangsung pada malam “Tribute to Nyawoung” pada Senin (25/5) mulai pukul 20.00 WIB. Sebanyak sembilan musisi lintas generasi Aceh akan membawakan lagu-lagu Nyawoung yang dirilis pada tahun 2000 dan dianggap sebagai tonggak penting perjalanan musik etnik Aceh.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh Piet Rusdi mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut karena mampu mempertemukan seniman lintas generasi dalam satu panggung kebudayaan.
“Kami melihat niat baik dari Endatu Kreatif sebagai pekerja seni yang membawa beban moral untuk melestarikan budaya. Kolaborasi lintas generasi dalam festival ini menjadi ruang inspirasi, bagaimana musik tradisi dan modern bisa saling menguatkan identitas,” ujar Piet.
Ia juga menilai Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan menjadi peluang besar bagi seniman dan pelaku budaya di seluruh Indonesia untuk terus berkarya secara berkelanjutan. “Yang terpenting adalah keberlanjutan, sehingga ide dan gagasan bisa terus hidup,” kata Piet Rusdi.
Gema Tanah Rencong Tribute to Nyawoung bukan sekadar festival musik, tetapi juga gerakan budaya yang menegaskan bahwa musik etnik Aceh tetap memiliki ruang hidup di tengah perkembangan zaman. Melalui kolaborasi lintas generasi dan dukungan pemerintah, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap tradisi sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru dalam karya seni Aceh.
