Hilirisasi Migas Blok Andaman Segera Dimulai, KEK Arun Jadi Pusat Industri

KEK Lhokseumawe akan diresmikan akhir 2017
PT Arun NGL Lhokseumawe, Aceh. (Ist/StatusAceh)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem memastikan program hilirisasi minyak dan gas (migas) dari kawasan Blok Andaman akan segera berjalan.

Pemerintah Aceh pun mulai menyiapkan berbagai langkah strategis agar potensi migas tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sekadar menghasilkan penerimaan bagi hasil.

“Gas alam melimpah, kita harus persiapkan diri dengan matang. Lampu hijau hilirisasi sudah kita dapatkan,” kata Mualem dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Menurut Mualem, keberadaan Blok Andaman merupakan peluang besar bagi Aceh untuk membangun industri berbasis migas. Ia menegaskan pemanfaatan cadangan gas tersebut tidak boleh hanya berorientasi pada besaran pendapatan daerah, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah melalui pengembangan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta manfaat ekonomi jangka panjang.

“Hilirisasi harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Aceh. Karena itu perlu perencanaan yang matang. Itu tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujarnya.

Pernyataan Mualem disampaikan melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi. Ia menjelaskan Pemerintah Aceh telah beberapa kali menggelar rapat terkait rencana hilirisasi migas yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir Syamaun.

Nurlis mengatakan kawasan Andaman memiliki enam wilayah kerja migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman. Tahap awal pengembangan akan dimulai dari Lapangan Gas Tengkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy.

Menurutnya, proyek tersebut akan menjadi pintu masuk pengembangan hilirisasi migas di Aceh yang dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe. Langkah itu juga dinilai sejalan dengan Proyek Strategis Nasional yang tercantum dalam RPJMN 2025-2029, termasuk pengembangan KEK Arun Lhokseumawe.

Nurlis menjelaskan Lapangan Gas Tengkulo diproyeksikan memproduksi sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah tersebut, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.

“Kondisi ini membuka peluang besar bagi pengembangan industri hilir di Aceh,” katanya.

Ia menyebut gas bumi dari South Andaman dapat diolah menjadi metanol dan hidrogen. Metanol sendiri merupakan salah satu bahan baku penting dalam program biodiesel nasional berbasis kelapa sawit sehingga Pemerintah Aceh menilai pembangunan pabrik metanol perlu segera dipersiapkan.

Selain gas, wilayah tersebut juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi nafta, kerosin, hingga gasoline sebagai bahan baku berbagai industri maupun bahan bakar minyak. Potensi itu dinilai dapat mendorong pembangunan kilang (refinery) dan memperluas aktivitas industri di Aceh.

Di sisi lain, Pemerintah Aceh juga menilai pengembangan industri migas membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang memadai. Karena itu, penguatan sektor pendidikan dan peningkatan kualitas SDM menjadi bagian penting dalam rencana hilirisasi tersebut.

“Mubadala kita harapkan dapat berperan mendidik SDM Aceh. Itulah sebabnya Gubernur Mualem menginginkan seluruh persiapan dilakukan secara matang dan melibatkan berbagai pihak demi kepentingan Aceh,” kata Nurlis.

Related posts