Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu andalan pemerintah dalam menjaga ketersediaan air saat musim kemarau panjang maupun fenomena El Nino. Bendungan yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 10 Juli 2026 itu diproyeksikan memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi risiko kekeringan di Aceh.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan pengelolaan sumber daya air harus mampu menjamin pasokan air bagi masyarakat dan sektor pertanian agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan.
“Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan pengendalian banjir tetap terjaga. Dengan pengelolaan yang optimal, kami memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan,” kata Dody dalam keterangannya.
Bendungan Keureuto merupakan salah satu bendungan terbesar di Aceh dengan kapasitas tampung mencapai 215,94 juta meter kubik dan luas genangan sekitar 896,39 hektare.
Keberadaan bendungan tersebut mampu menyuplai air irigasi untuk lahan pertanian seluas 14.695 hektare melalui jaringan irigasi sepanjang 75,94 kilometer. Infrastruktur ini juga mendorong peningkatan indeks pertanaman dari 200 persen menjadi 300 persen, sehingga petani dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
Dengan peningkatan intensitas tanam tersebut, produktivitas padi diperkirakan mencapai rata-rata 5,5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.
Selain mendukung sektor pertanian, Bendungan Keureuto dirancang sebagai infrastruktur multiguna. Bendungan ini mampu menyediakan air baku sebesar 0,65 meter kubik per detik, sekaligus mengurangi potensi banjir di wilayah hilir seluas sekitar 627 hektare.
Di sektor energi, bendungan tersebut juga memiliki potensi pengembangan pembangkit listrik berkapasitas hingga 185,62 megawatt melalui kombinasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung.
Pemerintah berharap Bendungan Keureuto tidak hanya menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat musim kemarau dan El Nino, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Aceh.
Pembangunan bendungan ini juga menjadi bagian dari upaya Kementerian PU mewujudkan infrastruktur yang memberikan nilai tambah bagi sektor-sektor produktif, sekaligus mendukung target peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan layanan sumber daya air.






