Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh disebut mengalami peningkatan tajam dalam 18 tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh yang disampaikan Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar, jumlah kumulatif kasus meningkat dari 10 kasus pada 2008 menjadi 942 kasus hingga 2026.
Farid mengatakan, angka tersebut terdiri dari 771 kasus HIV dan 171 kasus AIDS. Ia meminta peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian serius, terutama karena kasus HIV/AIDS di Banda Aceh banyak ditemukan pada kelompok usia produktif 15-39 tahun.
“Setiap tahun angkanya terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan 2008 yang hanya terdapat 10 kasus, hingga 2026 jumlah kumulatif sudah mencapai 942 kasus. Artinya, terjadi peningkatan hingga 94 kali lipat,” kata Farid saat membuka kegiatan penyuluhan dan edukasi kesehatan bagi remaja di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).
Menurut Farid, pada 2008 tercatat sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS. Jumlah tersebut meningkat menjadi 36 kasus pada 2018, terdiri dari 31 kasus HIV dan lima kasus AIDS.
Kemudian pada 2024 tercatat 147 kasus, dengan rincian 104 kasus HIV dan 43 kasus AIDS. Sementara hingga Agustus 2026 terdapat 68 kasus baru, terdiri dari 49 kasus HIV dan 19 kasus AIDS.
Farid mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan edukasi kesehatan bagi remaja. Ia meminta kader remaja Posyandu tidak hanya memahami HIV/AIDS, tetapi juga mampu menyampaikan informasi yang benar kepada teman sebaya dan masyarakat.
“Sebagai anak muda, adik-adik harus memiliki peran dalam menjaga Kota Banda Aceh. Sebab, yang paling banyak terdampak adalah generasi mereka sendiri, yaitu generasi muda,” ujarnya.
Menurut Farid, edukasi menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan HIV. Remaja perlu memahami perilaku yang berisiko dan tidak berisiko, sekaligus mengetahui langkah pencegahan serta pentingnya pemeriksaan dan pengobatan.
Ia juga mengingatkan agar edukasi HIV/AIDS tidak berhenti pada upaya pencegahan, tetapi turut menyasar persoalan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Jangan sampai mereka tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” katanya.
Farid mendorong kader remaja Posyandu menjadi edukator sebaya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia meminta setiap peserta menyampaikan kembali informasi yang diperoleh kepada sedikitnya 10 teman di lingkungan masing-masing.
“Setelah pelatihan ini, pulang ke gampong dan sampaikan kepada setidaknya 10 teman tentang bahaya serta cara pencegahan HIV/AIDS,” ujarnya.







