Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan untuk memperluas skema penyajian prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga akhir tahun ini, BGN menarget 1.000 hingga 5.000 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) atau dapur umum sudah bisa menerapkan sistem tersebut di sekolah-sekolah.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan target tersebut akan langsung dieksekusi begitu masa evaluasi selesai. Saat ini, BGN tengah melakukan uji coba sistem prasmanan di 62 SPPG yang tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Merauke, Pulau Madura, Jawa, hingga Riau.
“Jika tidak ditemukan masalah yang signifikan, hingga akhir tahun kami menargetkan sedikitnya 1.000 hingga 5.000 dapur dapat melaksanakan MBG dengan sistem prasmanan,” ujar Sudaryono usai meninjau pelaksanaan MBG di SD Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10).
BGN mengejar target ribuan dapur ini didasarkan pada sejumlah temuan positif di lapangan. Sudaryono membeberkan tiga alasan utama mengapa sistem prasmanan dinilai perlu segera diperluas.
Pertama efisiensi konsumsi, lalu BGN memastikan makanan yang disajikan secara prasmanan tetap dalam keadaan hangat, sehingga jauh lebih segar dan nikmat saat disantap oleh para siswa.
Kemudian sistem prasmanan memaksa siswa untuk berpartisipasi aktif dalam rutinitas makan siang mereka di sekolah.
“Pelibatan siswa bukan sekadar menjadikan mereka pihak yang melayani secara cuma-cuma. Ada siswa yang mengantre, ada yang membantu melayani (sistem piket), dan ada yang belajar bersabar. Ini merupakan bagian dari pendidikan,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan bahwa banyak negara maju sudah menerapkan sistem serupa untuk mendidik karakter anak.
Untuk mewujudkan target hingga 5.000 SPPG dalam waktu singkat di sisa tahun ini, Sudaryono menyadari ada tantangan besar, terutama terkait kesiapan dan pelatihan pihak dapur serta sekolah.
Fase awal pelaksanaan akan menyasar SPPG dan sekolah yang secara infrastruktur serta SDM sudah mumpuni dan bersedia.
“Kami akan memulai sistem prasmanan dari dapur dan sekolah yang memiliki kemampuan. Kami ingin menguji coba sesuatu yang baik agar sekolah-sekolah lain dapat melihat hasilnya dan kemudian mengikuti praktik yang terbukti berjalan dengan baik,” tegas Sudaryono.
