Elektabilitas dan Popularitas Mualem Menurun

TAPAKTUAN (KANALACEH.COM) : Peneliti dari Jaringan Survey Inisiatif (JSI) Aryos Nivada, mengatakan, elektabilitas (tingkat keterpilihan) dan popularitas Muzakir Manaf (Mualem) sebagai Calon Gubernur Aceh terus menunjukkan grafik penurunan dibandingkan saat Pilkada tahun 2012 lalu.

“Bukti menurunnya elektabilitas dan popularitas Mualem terlihat dari hasil survey yang dilakukan JSI dan beberapa lembaga lainnya di sejumlah kabupaten/kota, khususnya di daerah basis pendukung kuat Mualem, seperti Aceh Utara dan Aceh Timur,” kata Aryos, di Tapaktuan, Sabtu (24/10/2015).

Menurut Aryos, ada empat indikator menyebabkan elektabilitas dan popularitas Mualem turun dibandingkan saat Pilkada tahun 2012. Indikator pertama karena tidak terealisasinya 21 janji politik yang diucapkan di hadapan ribuan masyarakat Aceh saat berlangsungnya kampanye pemenangan Zaini Abdullah -Muzakir Manaf (Zikir) sebagai Cagub dan Cawagub Aceh
periode 2012-2017.

Ads

Indikator kedua, jelas Aryos, merosotnya kinerja kader Partai Aceh (PA) baik yang duduk di legislatif maupun eksekutif, mulai tingkat provinsi sampai kabupaten/kota yang dibuktikan dari tidak maksimalnya pelayanan terhadap masyarakat. Adapun indikator ketiga karena kekacauan politik di internal dan indikator keempat kurang memperhatikan konstituen.

“Karena Mualem sudah tahu bahwa elektabilitasnya menurun, dia sangat berambisi membangun koalisi dengan Partai Nasional (Parnas) untuk Pilkada 2017 mendatang,” kata pria jebolan Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini.

Menurut Pengamat Politik dan Keamanan Aceh ini, melihat elektabilitas Mualem telah menurun, beberapa partai politik nasional seperti NasDem dan Demokrat yang sebelumnya dinyatakan sudah sepakat berkoalisi mengusung Mualem ternyata satu per satu menarik diri. Masing-masing parpol itu kemudian mengklarifikasi bahwa mereka belum memutuskan berkoalisi dengan Mualem.

Aryos berpendapat, Partai Aceh (PA) yang notabene merupakan partai lokal pemenang Pemilu tahun 2014 di Aceh bisa mengusung kandidat cagub sendiri. Namun, karena respon masyarakat sudah menurun PA tidak Pede (percaya diri) untuk mengusung calon sendiri melainkan tetap berupaya semaksimal mungkin membangun koalisi dengan parnas.

“Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh JSI maupun lembaga survey lainnya termasuk survey yang dilakukan oleh parnas sendiri, jikapun Partai Aceh berhasil berkoalisi dengan parnas untuk mengusung Mualem dan seluruh mesin politik partai bekerja, tetap saja elektabilitas dan popularitas Mualem tidak mampu menguat seperti saat Pilkada tahun 2012 lalu,” tegas Aryos.

Kondisi tersebut, tambah Aryos, sangat menguntungkan Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, yang berniat maju kembali pada Pilkada tahun 2017 mendatang. Sosok Irwandi Yusuf yang juga berasal dari eks kombatan GAM, kata Aryos,dinilai oleh masyarakat Aceh lebih merakyat dan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan melalui berbagai terobosan dan gebrakan pembangunan yang telah di lakukan.

“Meskipun beberapa petinggi GAM seperti Sofyan Dawood dan Ayah Merin tidak lagi mendukung Irwandi Yusuf, tapi sosok Irwandi dinilai masih sangat diterima oleh kalangan GAM yang merupakan mesin politik Partai Aceh di kalangan bawah. Ini menguntungkan pihak Irwandi Yusuf karena bisa menaikkan elektabilitas dan popularitas Irwandi dibanding sosok lainnya yang akan maju sebagai Cagub Aceh,” jelasnya.

Hanya saja, menurut amatan dan kajian JSI, yang menjadi kendala dan hambatan bagi Irwandi untuk maju sebagai Cagub Aceh adalah kendaraan politik yang akan mengusungnya, sebab Irwandi yang merupakan tokoh pendiri Partai Nasional Aceh (PNA) hanya memiliki tiga kursi di DPRA sehingga harus mencari parpol lainnya untuk mencukupi perolehan kursi sebanyak 15% dari jumlah keseluruhan kursi di DPRA.

“Jika memang untuk memperoleh dukungan parpol harus membayar mahar politik yang besar, tentu ini menjadi sebuah kendala bagi Irwandi dengan kondisi keuangan sekarang. Namun, menurut saya skenario lain yang akan dilakukan oleh Irwandi adalah akan maju lewat jalur independen dengan mengumpulkan KTP warga,” ujarnya.

Adapun kandidat lainnya yang berpeluang besar bakal diusung oleh parnas, kata Aryos, adalah Tarmizi A. Karim.

“Namun tingkat keterpilihan Tarmizi Karim ini juga sangat ditentukan sejauh mana berjalannya mesin politik partai bekerja memenangkan dirinya sebagai cagub aceh,” ucapnya.

Sumber: pikiranmerdeka.co

Ads