Pertama kalinya, napi di Denpasar hasilkan album musik

Ilustrasi musik.
--Ads--
loading...

Denpasar (KANALACEH.COM) – Pertama kali dalam sejarah, delapan narapidana dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA di Kerobokan, Denpasar, meluncurkan album bertajuk ‘Saatnya Berubah’ di balik jeruji besi. Para napi tersebut tergabung dalam grup band Antrabez.

Hidup di balik jeruji besi ternyata tidak mematikan kreatifitas delapan narapidana lapas Kerobokan. Mereka mencoba mengubah mindset banyak orang bahwa berada di dalam lapas tidak sehoror yang dibayangkan.

Antrabez sendiri memiliki arti “Anak Terali Besi” yang digawangi oleh Octa, Rifa, Milky, Firdaus, Ronald, Febri, Tantri dan Shila. Tajuk “Saatnya Berubah” diambil untuk membuka mata narapidana lainnya di seluruh lapas di Indonesia bahwa di balik jeruji besi tidak menghalangi kreatifitas.

Ads

Manager grup band Antrabez, Mario Sihombing menuturkan bahwa grup band Antrabez didukung penuh oleh Kepala Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Denpasar. Sebab, ide awal pembentukan grup band ini lahir dari Kalapas dan langsung direspon positif oleh salah satu personel Antrabez.

“Grup band ini didukung penuh oleh Kalapas, bapak Kalapas juga memberikan lirik lagu juga untuk Antrabez. Lirik lagu-lagunya sangat mengena sekali bagi kami yang ada di LP ini, jadi supaya membuat perubahan dengan berkarya,” terang Mario di Lapas Kerobokan, Sabtu (29/10).

Sementara, pionir Antrabez, Octa menuturkan bahwa proses peluncuran album ini sangat ajaib karena hanya lima hari mereka menyusun acara di Lapas Kerobokan dan tanpa persiapan yang matang.

“Kita langsung dicetuskan oleh Kalapas, dia bilang besok jadi tanggal 28 dan harus jadi. Enggak tau nih harus gimana dan ini atas izin yang di atas, enggak akan terlaksana,” tambah Okta.

Dia berharap dengan diluncurkan album Antrabez ini, bisa menginspirasi dan memotivasi narapidana lainnya di seluruh lapas se-Indonesia untuk dapat berkarya dan bertahan hidup di dalam lapas.

“Kita harus berubah ke hal positif. Dulu kita dibilang sampah masyarakat apa segala macem. Sampah itu kalau didaur ulang lebih bagus dari barang pabrikan dan jujur saja saya sangat berterimakasih sama yang di atas,” ungkapnya.

Kalapas Kelas II A Denpasar, Slamet Prihantoro ini merasa bangga sebab baru pertama kali Lapas Kerobokan atau mungkin lapas se-Indonesia narapidananya meluncurkan album dan itu di balik jeruji besi.

“Ini mamang baru ini saja, yang launching secara besar-besaran karena disupport oleh seluruh pemerhati musik yang di Bali,” ungkap Toro.

Menurutnya tidak menutup kemungkinan dengan adanya grupband Antrabez ada Lapas lainnya di wilayah Bali maupun seluruh lapas di Indoensia yang bisa mengikuti jejak Antrabez.

“Ketika ada warga binaan yang ada talenta kita mohon itu bisa diberi kesempatan tidak menutup kemungkinan kok di LP maupun rutan yang ada di Bali ini punya talenta atau tidak,” tutupnya. [Okezone]

Ads