(ist)

Lhoksukon (KANALACEH.COM) – Dalam rangka memperingati milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ke 40 Tahun, di Kabupaten Wilayah Pase diperingati dengan kegiatan berdoa bersama, zikir  ,menyantuni Anak yatim dan kanduri bersama masyarakat, mantan kombatan GAM, janda korban konflik serta anak yatim korban konflik.

Juru bicara komite peralihan Aceh wilayah Pase, Muhammad Jhoni , menjelaskan bahwa dalam kegiatan memperingati milad Perjuangan GAM ke 40 yang di selenggarankan Oleh Eks Kombatan GAM  dan masyarakat Aceh Utara yang tergabung dalam KPA/PA akan dilaksanakan dengan kegiatan doa dan kanduri bersama di Lapangan serbaguna Desa Pante Breuh, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

“Mari kita renungkan kembali atas apa yang telah kita korbankan di Masa lalu. Ingatan ini saya sampaikan bukan karena saya untuk membuka luka lama, akan tetapi saya sampaikan hal ini agar kita saling menjaga perdamaian ini dengan tidak mengkhianati perjuangan ini. Kami tidak takut dengan aparat untuk mengibarkan bendera bintang bulan, namun kami hanya mendengarkan perintah pimpinan kami saja,” katanya.

AdsPHP Dev Cloud Hosting

Ketua KPA/PA Wilayah Samudera Pase, Tgk. Zulkarnaini bin Hamzah dalam sambutannya sekaligus menyampaikan  Maklumat Alm Muhammad Hasan Ditiro. Pada 04 Desember lalu, Dr. Muhammad Hasan Diitiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimun Tiro, maka pada hari ini kembali di gelar. “Mari kita selamatkan bangsa kita ini sebagaimana indatu kita yang tergabung dalam ASNLF lalu dalam perjuangkan Aceh,” kata dia.

Ia menambahkan, dulu tokoh-tokoh Aceh pada saat konflik selalu berfikir  bagaimana caranya menjembatani perdamaian GAM dengan RI. Kemudian ibu Pesiden RI pada saat itu Megawati Sokarno Putri dan tokoh GAM keluar Aceh. Pada saat proses menjelang perdamaian itu, sangat alot dan Aceh terus.bergolak dan memanas.

“Kita sebenarnya tidak Berdamai. Pada saat itu, akan tetapi perdamaian dilakukan atas bujukan pihak asing sehingga pada 15 Agustus 2005 lalu kita berdamai atas kerjakeras pihak Negara asing di Finlandia Helsinki. Maka saat ini kita juga masih dalam suasanan perdamaian, untuk itu mari jaga perdamaian,” ujarnya.

Pada hari ini, MoU Helsinki adalah racun bagi kita, karena sampai saat ini  Implementasi Ponit-Point yang tertuang dalam MoU Helsinki belum menguntungkan terhadap Aceh dan belum begitu memuaskan terkait point-Point MoU Helsinki yang kita hadapi hingga sekarang ini,ujarnya.

Tgk Zulkarnaini Mengharapkan Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPR Aceh ), agar segera mengambil tindakan untuk mendesak Pemerintah Pusat terkait Point-Pount MoU Helsinki, jangan hanya tidur disana.

“Maka untuk kedepan, kami harap kepada masyarakat Aceh untuk tetap Bersatu untuk mencapai masa depan bangsa Aceh yang lebih maju dan jaya. Saya siap untuk melakukan perubahan di Aceh agar lebih maju dan bermartabat,” tegasnya. [Rajali Samidan]

Ads
Artikel SebelumnyaBelanda umumkan penyelidikan pembantaian ribuan rakyat Indonesia
Artikel SelanjutnyaRevisi UU Ormas dinilai wujud ketakutan Pemerintah