Safirul Islami penjalan kaki dari Bekasi Jawa Barat bersama anjingnya Batu di Gunung Parau, Aceh Besar, Sabtu (30/8/2017). Ia menuju Banda Aceh dengan menargetkan agar merayakan hari lebaran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. (Kanal Aceh/Fahzian Aldevan).

Terik matahari siang, tak menyurutkan langkah kecil pria berkulit hitam itu. Keringatnya sesekali sempat menetes diaspal badan jalan dikawasan pergunungan Parau, Aceh Besar.

Safirul Islami (28) pria asli dari Bekasi, Jawa barat ini, sudah menempuh selama 11 bulan berjalan kaki dari rumahnya terhitung dari 23 September 2016 lalu. Bermodal tas besar (Carrier) yang ia bawa lengkap dengan bendera Merah Putih serta seekor anjing, dirinya sudah melewati berbagai rintangan dan pengalaman di Pulau Sumatra.

Saat ditanya kanalaceh.com, alasan ia memilih berjalan kaki hingga ketitik nol pulau Sabang, Safirul Islami mengatakan Negara Indonesia saat ini seperti benang kusut.

Ads

“Negara ini kayak benang kusut sudah dan gua ke Sabang untuk mencari benang kusut itu,” kata Safir saat di jumpai Kanalaceh.com dikawasan gunung Parau Aceh Besar, Sabtu (30/8).

Kenapa harus di sabang, kata dia, karena Sabang adalah titik nol Indonesia. Sehingga, Sabang ialah tempat yang tepat untuk melihat benang kusut yang terjadi di Indonesia.

“Selain ingin menyelesaikan Projek, gua juga ingin mulai hidup dari nol ya dititik nol Sabang,” kata Safir sambil ngos-ngosan saat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh kemarin.

Rencananya, hari ini Jumat (1/9) ia akan berangkat ke Sabang lewat pelabuhan Ulhee Lheue. Di Sabang, Safir akan mengelilingi kota itu selama dua Minggu.

Seniman lulusan Fakultas Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini melanjutkan cerita setiap perjalanan dengan berjalan kaki tidak memaksakan target waktu. Namun, ia tidak memaksakan jika badan sudah mulai lemah.

“Pokoknya gua ngak maksa, kalau udah malam gua berhenti,” cetusnya sambil meneguk air minum dalam botol yang ia ikat ditasnya.

Baca: Safir, pejalan kaki asal Bekasi ingin shalat ID di Masjid Raya Baiturrahman

Saat kanalaceh.com mengulas kembali di awal perjalanan dan menyangkut restu dari orang tuanya, Safir mengatakan, orang tuanya sempat tidak setuju dengan perjalanan ekstrem yang dilakoni anaknya saat ini, Namun ia meyakinkan orang tuanya bahwa dirinya akan baik-baik saja dan segera pulang ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga.

“Aku yang penting sudah pamit, akhirnya orang tua juga merestui,” ujarnya.

Berbagai rintangan dari perjalanannya sudah ia temui, selain itu setiap momen perjalanan Safir juga tak lupa untuk mendokumentasikan perjalanan. Pria asli suku Betawi ini melewati setiap langkah perjalanan hanya ditemani seekor anjing yang bernama Batu. Binatang peliharaan itu sempat beberapa kali menghilang dan juga merasakan kesakitan. ” Kaki bati sempat sobek saat di kota Fajar Kemaren,” kata Safir

Nama Batu ia beri sesuai dengan karakter pemilik yang sekarang, sebelumnya bukan nama Batu tetapi Mayloy pada pemilik sebelumnya.

“Biar sama-sama seperti musafir, gua ajak jalan dia saat berumur 3 bulan 12 hari,” sebut Safir.

Hingga kini, kata Safir, dalam persiapan yang sudah menuju perjalanan hampir satu tahun ini murni biaya dengan biayanya sendiri. Semua persiapan itu sudah dilakukannya tiga tahun sebelum ia berangkat.

“Kalau sponsor atau yang mendanai tidak ada, akan tetapi setiap perjalanan selalu ada rezeki yang Allah bantu,” ujarnya.

Safirul, berkeinginan ingin merayakan Idul Adha di Banda Aceh, sebelum ia berangkat ke Sabang. “Mudah-mudahan bisa shalat hari Raya di Masjid Baiturrahman, karena saya belum pergi sama sekali kesana,” imbuhnya. [Fahzian Aldevan]

Ads