Gutel dan Memek Dapat Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda

Kuliner asal Tanah Gayo, Gutel. (ist)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Kementrian Pendidikan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyerahkan empat sertifikat karya budaya Aceh yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB).

Keempatnya yaitu Sining, Gutel, Silat Pelintau dan Memek. Dua diantaranya yaitu memek dan gutel ialah makanan khas tradisional. Panganan ini, diyakini sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan, dan hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat.

Dengan ditetapkan empat karya budaya ini, maka jumlah karya budaya Aceh yang telah menjadi warisan budaya tak benda Indonesia menjadi 34. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin mengatakan, perlindungan karya budaya lokal ini untuk menyelamatkannya dari kepunahan.

Ads

Baca: Memek, makanan khas Simeulue yang menggoda lidah

“Ini upaya kita untuk menghindari kepunahan dan klaimed budaya dari negara lain,” kata Jamaluddin dalam keterangannya, Jumat (11/10).

Panganan gutel sendiri berasal dari Tanah Gayo. Terbuat dari tepung beras, kelapa, gula dan air. Cara membuatnya pun cukup sederhana, hanya mencampur seluruh bahan tersebut, lalu dibentuk lonjong sebesar telur ayam.

Baca: Mengenal Gutel, panganan khas Gayo saat berburu

Menurut warga Gayo, Gutel ini kerap dijadikan sebagai bekal makanan saat bepergian kedalam hutan untuk berburu. Karena, kudapan ini begitu mudah di simpan dan tahan hingga beberapa hari.

Makanan kuliner khas Simeulue, memek. (Kanal Aceh/Randi)
Makanan kuliner khas Simeulue, memek. (Kanal Aceh/Randi)

Dulunya orang Gayo saat belum mengenal kenderaan, melakukan perjalanan yang melintasi hutan juga dibekali Gutel. Termasuk saat akan berperang gerilya melawan penjajah Belanda dan Jepang.

“Makanan ini sudah ada sejak zaman dulu, bahkan pada zaman perang sudah ada,” kata Marni salah seorang pengurus dewan kerajinan nasional daerah Kabupaten Gayo Lues.

Menariknya, Gutel ini dibalut dengan daun pandan sehingga terlihat rapi. Soal rasa, kudapan ini bisa menjadi teman yang pas dengan segelas Kopi.

Marni menyebutkan, yang membuat Gutel ini menarik adalah karena pembuatannya yang di kemul (digumpalkan dengan kekuatan genggaman jari). Sehingga isinya padat.”Tingkat kelezatan Gutel ini juga terletak pada tingkat kecintaan kita pada si pembuatnya,” sebut Marni.

Sedangkan kuliner memek, berasal dari Pulau Simeulue, Aceh. Nama makanan memek sendiri berasal dari mamemek yang berarti mengunyah-ngunyah atau menggigit. Namun saat ini masyarakat di Simeulue lebih populer menyebutnya sebagai memek.

Kuliner memek ini dulunya digunakan oleh para nelayan yang ingin melaut. Karena cara pembuatannya yang mudah, nelayan tersebut hanya membawa bahan bakunya saja, pisang dan beras ketan yang sudah digongseng. Makanan ini digunakan untuk pengganti nasi.

Makanan memek sendiri terbuat dari beras ketan gongseng, pisang, santan yang sudah dipanasin, gula dan garam. Proses pembuatannya butuh waktu sekitar satu jam. Setelah masak, memek dapat disantap dingin atau biasa. [Randi]

 

View this post on Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Peraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2015 dengan judul lagu gajah, Tulus, berkunjung ke Aceh untuk melihat populasi gajah Sumatera secara langsung. Dalam kunjungannya tersebut, Tulus memberikan satu unit GPS Collar untuk gajah liar di Aceh. – GPS Collar itu dibeli dari hasil penggalangan dana gerakan #temangajah Tulus. Fungsinya, untuk mengamati pergerakan gajah liar di daerah yang berkonflik dengan gajah Dan manusia, sehingga dampak konflik bisa diminimalisir. – Tulus mengatakan, gerakan #temangajah ini hanya bagian kecil untuk menyelamatkan konservasi gajah yang ada di Sumatera. – Menurutnya, populasi gajah kini sudah semakin menurun drastis, akibat perburuhan. – “Saya ingin melakukan sesuatu kontribusi, untuk membantu keberadaan gajah karena Gajah Sumatera lagi kritis,” kata Tulus saat talkshow dengan pelajar di Museum Aceh di Banda Aceh, Kamis (10/10). – Sebelumnya, pelantun Monokrom ini berkunjung ke Karang Ampar, Aceh Tengah. Disana, ia mengakui bahwa gajah bisa hidup berdampingan langsung dengan manusia, tanpa adanya gesekan. – Melihat situasi tersebut, Tulus merasa senang dan berharap harmonisasi itu bisa menular ke daerah-daerah yang memiliki populasi gajah. – “Desa karang ampar, gajah bisa hidup berdampingan dengan manusia. Ini luar biasa,” kata Tulus. – -#selengkapnya baca di www.kanalaceh.com atau klik tautan di story 😘 – #aceh #bandaaceh #bireuen #pidie #pidiejaya #acehbesar #lhokseumawe #acehutara #acehtimur #langsa #acehtamiang #acehtenggara #gayolues #acehtengah #benermeriah #abdya #naganraya #acehbarat #naganraya #acehselatan #subulussalam #acehsingkil #simeulue #sabang #acehjaya #kopi #elephant #gajah #wwf

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on