Ikut Seleksi Jadi Imam Masjid, Dewan Abdya: Ini Panggilan Hati

Prof Dr Tgk H Azman Ismail, MA Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sedang melakukan seleksi imam Masjid Agung Abdya (Kanal Aceh/Jimi Pratama)
--Ads--
loading...

Blangpidie (KANALACEH.COM) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Usman, mengikuti seleksi menjadi calon imam Masjid Agung Seunaloh Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa (28/1).

“Saya ikut menjadi calon Imam Masjid ini adalah murni panggilan hati,” katanya.

Usman berharap nantinya dengan seleksi ini agar betul-betul menjadi imam yang professional, serta mampu menjadi leader dalam mensyiarkan agama.

Ads

“Jadi imam masjid itu harus betul-betul siap, dan kita di tuntut lebih mengutamakan kepentingan imam dari pada hal yang lain,” sebutnya.

Selain itu dirinya juga menyatakan tak ada ketentuan PNS atau pun dewan yang tidak boleh ikut, semuanya bisa. “Siapa saja boleh tetapi harus mampu pada dasarnya. Kenapa yang lain berlomba lomba ikut, sedangkan untuk jadi seorang imam agak kurang, kan rugi,” ujarnya.

Sementara itu kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Abdya, Ubaidillah, mengatakan Masjid Agung ini merupakan simbol dan nantinya para imam-imam merupakan suri tauladan di Abdya dalam perekat umat, dan melahirkan generasi serta menjalan syiar- syiar yang baik.

“Hari ini kita beri aprisiasi calon dewan imam, dan kita akan memilih 15 dari 25 yang sudah mendaftar dan pemerintah sangat mendukung langkah ini,” sebutnya.

Dikatakannya para dewan juri ini sengaja didatangkan dari luar agar tidak ada yang mengintervensi hasil seleksi. “Setelah masjid diresmikan maka disini akan menjadi tempat ibadah dan juga belajar tentang agama,” ucapnya. [Jimi Pratama]

 

View this post on Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Kapal yang mengangkut 14 warga negara Iran terkatung-katung di perairan Aceh, tepatnya 10 mil dari Kabupaten Aceh Barat. Kapal tersebut pertama kali ditemukan oleh nelayan Aceh Barat, lalu dilaporkan ke aparat setempat. Kepala Pos SAR Meulaboh, Dwi Hetno membenarkan bahwa kapal tersebut saat ini pasang jangkar di perairan Aceh Barat, dan tidak diizinkan merapat ke pelabuhan. Dari pengakuan warga Iran tersebut, kata Dwi, mereka awalnya ingin mencari ikan, namun kapal mereka mengalami mati mesin dan di bajak oleh perompak Somalia. Pihaknya juga masih menyelidiki pengakuan warga Iran yang terkatung-katung di perairan Aceh itu. Sebab, tim SAR tidak menemukan dokumen kapal, beserta alat tangkap ikan juga tidak ditemukan di dalam kapal. “Informasi dari mereka, karena mati mesan tapi dibajak juga di Somalia, tapi ini masih kita selidiki lagi,” kata Dwi saat dikonfirmasi, Selasa, 28 Januari 2020. Mereka hanya membawa identitas diri. Pihak SAR akan menyelidiki lebih lanjut ke 14 warga negara Iran tersebut. “Kata mereka (kerja) nelayan, tapi mencurigakan juga, tidak ada tanda-tanda ke nelayannya,” ujarnya. Langkah selanjutnya, pihaknya akan menggiring kapal tersebut kembali ke tengah laut, untuk menjaga keamanan. [Randi] #aceh #acehbarat#acehgayo #acehtenggara #acehtimur #acehbesar #acehutara_lhokseumawe #acehsingkil #acehselatan #acehtamiang #nelayan #perairanindonesia #lautindonesia #kapal #sar #keamanan #iran #meulaboh #perompak #somalia

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on