Nasib Indonesia di tangan generasi millennial

Nasib Indonesia di tangan generasi millennial
Ketua Umum ESA FKIP Unsyiah, Ikhsan. (Dok. Pribadi)

Oleh: ikhsan

PERAN mahasiswa dalam sejarah perjalanan Indonesia sangatlah besar, terbukti dengan tercatatnya beberapa pergerakan mahasiswa yang telah mampu membawa perubahan secara signifikan. Mahasiswa sebagai agent of change sudah sewajarnya selalu berupaya untuk mengaktualisasi diri demi masa depan yang cerah.

Sebagai kaum cendikiawan dan intelektual muda, seorang mahasiswa harus sadar akan gelar maha yang sedang disandang, harus mengimplementasikan tugas dan fungsi mahasiswa secara komprehensif.

Kecenderungan berfikir mahasiswa yang hanya untuk belajar demi mendapatkan nilai bagus harus dikikis secara integral. Sebagai kaum yang tercerahkan, mahasiswa harus berfikir secara visioner demi kemajuan yang dicita-citakan bangsa dan negara.

Ads

Mahasiswa harus kritis dalam menanggapi isu-isu sosial politik, sosial ekonomi dan sosial masyarakat yang tidak memihak kepada rakyat. Sebagai perwujudan dari tri dharma perguruan tinggi sudah sepatutnya mahasiswa harus berperan aktif dalam membela tindakan-tindakan pemerintah yang memandang rendah kepada rakyat. Sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah, sudah menjadi tanggung jawab mahasiwa untuk peka dalam menyuarakan keadilan.

Mahasiswa dan pemuda sekarang merupakan pemimpin dimasa datang, kemudian yang menjadi pertanyaan besar apakah mahasiswa dan pemuda sekarang sudah siap untuk melanjutkan estafet kepemimpinan para orang-orang yang mengambil kebijakan dan penguasa di pemerintahan indonesia sekarang untuk masa yang akan datang? Bagaimana kondisi Indonesia dalam 20 tahun ke depan ketika semua lini jabatan pemerintahan dikuasi oleh generasi millennial?

Mahasiswa dan generasi millennial

Menjadi sangat menarik ketika membahas tentang generasi millennial. Generasi millennial atau generasi Y adalah kelompok demografis setelah generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980an sampai 2000an sebagai generasi millennial.

Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15-34 tahun. Dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik, kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan yang sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Millennial adalah satu-satunya generasi yang disebut “digital native” lahir dan tumbuh berbarengan dengan teknologi (Prensky, 2001). Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millennial belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka.

Tidak berhenti disitu, generasi millennial  juga cenderung cuek dan rendah akan nilai kepedulian sosial, kebanyakan dari generasi millennial hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme.

Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya, ditambah lagi dengan kecanggihan teknologi membuat mereka malas untuk melakukan interaksi di dunia nyata. Para generasi sekarang lebih senang berinteraksi di sosial media. Eksistensi dan hidup penuh gaya menjadi tren gaya hidup generasi millennial, eksistensi sosial ditentukan dari jumlah followers dan like.

Nah, ini sungguh menjadi keprihatinan kita bersama akan generasi sekarang yang merupakan generasi millennial yang sedang diemban oleh mahasiswa. Para mahasiswa sekarang cenderung apatis dan diam tanpa ada gerakan atas pembodohan yang semakin memperburuk kondisi idealisme seorang mahasiswa.

Mahasiswa sekarang cenderung mengikuti arus kehidupan yang tak menentu, mereka hanya akan menjadi generasi penerus dari pada tikus-tikus berdasi, mereka tidak suka akan perubahan karena sifat idealis dari mahasiswa sudah mulai memudar dan terkikis dan diperparah karena mereka belum siap menerima akselerasi perkembangan teknologi.

Nasib Indonesia dimasa datang

Kehidupan mahasiswa sekarang sebagai generasi millennial yang serba instan juga menjadi indikator nasib Indonesia di masa depan. Sifat malas dan narsis secara berlebihan menjadi sebuah ketakutan akan nasib Indonesia yang akan membawa ke ambang kehancuran.

Bagaimana tidak, dalam 20 tahun ke depan diprediksikan Indonesia akan didominasi oleh generasi millennial, mereka akan menempati semua posisi-posisi penting dipemerintahan.

Jika generasi sekarang masih bermalas-malasan dan tidak terbiasa bekerja di bawah tekanan apalagi generasi yang alergi terhadap politik dan kurang peka terhadap kondisi sosial, maka tak heran jika Indonesia dimasa yang akan datang menjadi masa-masa kelam di bawah mahasiswa yang generasi millennial.

Kondisi seperti ini juga diperparah akan posisi mahasiswa sekarang yang bisa kita istilahkan sebagai aktivis-net. Mereka merupakan para aktivis mahasiswa yang sering berkoar-koar dan mengkritik para pemimpin bangsa di media sosial hanya demi mendapatkan ketenaran. Kritikan-kritikan pedas yang mereka lontarkan sungguh sangat kurang etis, karena mereka hanya mengkritik tanpa solusi pencerahan yang bisa ditawarkan.

Maka harapan besar akan nasib Indonesia dimasa mendatang betul-betul tergantung akan generasi sekarang. Selagi masih ada waktu dan kesempatan, mari kita rubah kebiasaan buruk dengan cara berkarya, setidaknya dapat menunda jatah masa kehancuran Indonesia dimasa datang. Buktikan bahwa mahasiswa sekarang sebagai generasi millenial bisa membuat sebuah peradaban yang luar biasa akan maa-masa kejayaan Indonesia di kemudian hari.

*Penulis merupakan Ketua Umum ESA FKIP Unsyiah juga Wasekum Bidang PTKP HMI Komisariat FKIP Unsyiah. Email: [email protected]

Ads