Stockholm dan Kenangan Saya Tentang Hasan Tiro

Fauzan Febriansyah sedang menjalani kerja magang dan tugas belajar di Tallin, Estonia atas kerjasama Yayasan Gerakan Mari Berbagi & Citizen OS Foundation, Estonia.
--Ads--
loading...

Setelah melakukan perjalanan selama 16 jam dari Tallinn menuju Stockholm dengan kapal ferry Victoria satu. Saya tiba di Stockholm pukul 10 pagi dan disambut dengan suhu udara 4 derajat celcius.

Tujuan utama saya ke Stockholm adalah untuk melihat apartemen yang pernah ditempati almarhum PYM Wali Nanggroe Hasan Muhammad di Tiro selama mengasingkan diri di Swedia.

Kenapa hanya ingin melihat apartemen? Karena saya sebetulnya agak penasaran bagaimana bentuk bangunan apartemen ini dari luar. Apakah bentuknya mewah dan minimalis, dikawasan elite, atau sebaliknya.

Ads

Saya banyak melihat foto-foto sejarah para pejuang GAM dulu atau foto aktivis demokrasi Aceh yang berfoto bersama Hasan Tiro di Swedia di dalam sebuah ruangan, yang dihiasi foto-foto pahlawan Aceh dengan disalah satu sisi berdiri tegak Bendera Bulan Bintang.

Dalam keterangan foto tertulis di tempat tinggal Hasan Tiro di Swedia. Tapi bagaimana bentuk bangunan itu dari luar saya tidak pernah melihat dokumentasinya.

Rasa penasaran itu saya sampaikan ke Abu Doto Zaini Abdullah setelah sebelumnya saya sampaikan bahwa saya akan berangkat ke Estonia untuk program internship.

Melalui Abu Doto akhirnya saya bisa bersilaturrahmi dengan Bang Adi, menantu beliau yang telah menetap selama 20 tahun di Swedia. Bang Adi menjadi tempat saya menumpahkan rasa penasaran saya, mendisikusikan banyak hal yang pernah saya ketahui tentang Hasan Tiro selama di pengasingan, sekaligus mengantar saya ke apartemen Hasan Tiro pernah tinggal.

Setelah Hasan Tiro dan Zaini Abdullah tiba di Swedia pada tahun 1983. Apartemen ini baru terbeli pada tahun 1996. Lokasinya di kawasan Norsborg pinggiran kota Stockholm, berada di jalan Albyvagen nomor 11, Alby Centrum. Orang Stockholm populer menyebut daerah ini dengan kawasan Alby. Apartemen Zaini Abdullah hanya berselang satu gedung tepatnya di nomor 9.

Apartemen yang ditempati Hasan Tiro ini tergolong bangunan sederhana. Namun kawasan ini cukup asri dan rindang. Karena saat saya kunjungi sedang musim gugur, pepohonan makin indah karena daun pepohonan berubah ragam warna.

Flat Hasan Tiro berada di lantai 5, memiliki 2 kamar tidur dan punya teras beranda, dimana saya dapat membayangkan, Hasan Tiro dapat melihat indahnya kota Stockholm dari teras beranda ini.

Sayangnya saya tidak bisa masuk ke dalam. Karena setelah Hasan Tiro wafat, apartemen ini dijual kepada pemilik baru seorang warga Swedia keturunan Irak. Harga jual apartemen ini dalam mata uang Rupiah sekitar 1,5 milyar. Uang hasil penjualan apartemen ini diserahkan kepada anak tunggal almarhum, Karim Tiro yang menetap di Amerika Serikat.

Hasan Tiro selalu rajin berolahraga dengan Spinning Bike (sepeda statis) di apartemen beliau. Setelah beliau terserang stroke pun olahraga ini malah makin rutin dilakukan dan menjadi kegemaran.

Soal urusan makanan, Hasan Tiro senang dengan makanan dari negara mana saja. Walaupun yang paling selera tentu makanan Aceh semisal masam keueng. Kalau sudah rindu makanan Aceh, maka Umi Niazah A. Hamid (istri Zaini Abdullah) yang menyiapkan. Urusan minuman mungkin banyak dari kita yang tahu kalau Hasan Tiro penggemar Coca Cola.

Lama saya memandang bangunan apartemen ini dari luar. Membayangkan bagaimana rapat-rapat perjuangan GAM dahulu dibahas. Keputusan dan kebijakan politik lahir dari sebuah flat apartemen yang kecil itu. Sampai membayangkan Hasan Tiro yang mengurusi dirinya sendiri. Dari menjaga kebersihan seluruh ruangan apartemen itu sampai mencuci baju sendiri, yang memang ingin dilakukannya sendiri tanpa harus terlalu bergantung banyak pada orang lain.

Sosok bertubuh kecil ini memang dikenal disiplin, rapi dan sangat berwibawa. Berjalan pun sangat cepat sampai terkadang susah diikuti langkahnya oleh orang lain.

Saya mengenal pemikiran Hasan Tiro dari buku-bukunya yang saya buru saat kuliah. Ada yang saya dapat dalam bentuk fisik sebuah buku semisal buku “Demokrasi Untuk Indonesia”, ada juga dalam bentuk fotocopy dan PDF. Kesan saya yang lain soal penampilan beliau yang rapi dengan setelan jas disetiap kesempatan. Khas seorang diplomat.

Semasa hidupnya saya tidak sempat mengenal beliau secara pribadi, kenangan saya paling dalam tentang Hasan Tiro adalah ketika Allah berikan saya kesempatan untuk bisa menshalatkan jenazah dan mendokan almarhum saat beliau wafat 3 Juni 2010, lokasi shalat jenazah kala itu di rumah dinas Ketua DPRA Hasbi Abdullah.

Alfatihah.

“Saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya dan bukan pula tujuan perjuangan ini. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur dirinya sendiri.” The Price of Freedom: The Unifinished of Diary (1981) h. 140 ~ Hasan Tiro.

Penulis: Fauzan Febriansyah