Tolak PT Laot Bangko, Dua Desa di Subulussalam Surati Kementrian ATR

Ilustrasi.
--Ads--
loading...

Subulussalam (KANALACEH.COM) – Perpanjangan izin HGU PT Laot Bangko kembali mendapat penolakan. Kali ini, penolakan itu dating dari dua desa, yaitu Desa Kuta Cepu dan Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Mereka menolak, disebabkan keberadaan PT Laot Bangko dianggap tidak memiliki manfaat secara ekonomi kepada masayarakat sekitar.

Baca: PT Laot Bangko Dinilai Tak Serius Menangani Karhutla

Ads

“Selama 30 tahun PT Laot Bangko beroperasi kami rasakan tidak ada manfaatnya baik secara ekonomi maupun sosial,” kata Kepala Desa Kuta Cepu, Rusdi Pardosi, Sabtu (21/12).

Baca: Ipmasad Tolak Perpanjangan Izin HGU PT Laot Bangko

Sekitar tiga bulan yang lalu lanjut Rusdi, saat tim B melakukan survey lahan HGU PT Laot Bangko, dan meminta persetujuan dari Desa Kuta Cepu dan Tangga Besi dengan menyodorkan dokumen untuk ditandatangani, tapi pihaknya menolak untuk tandatangan.

Baca: Pemerintah Aceh Diminta Tidak Perpanjangan Izin HGU PT Laot Bangko

Pihaknya juga sudah mengirim surat ke kementerian Agraria Tata Ruang Republik Indonesia (ATR RI) agar tidak memperpanjang izin HGU PT Laot Bangko.

Surat itu, juga ditembuskan ke Kantor Staf Kepresidenan RI di Jakarta, Kanwil BPN Aceh, Gubernur Aceh, Pelayanan Perizinan satu pintu Aceh dan Polda Aceh di Banda Aceh.

Selanjutnya dalam waktu dekat kata Rusdi, pihaknya juga akan menemui Wali Kota Subulussalam, untuk memberikan surat terkait penolakan perpanjangan izin HGU PT Laot Bangko.

Ia berharap penolakan itu mendapat respon dari Wali Kota Subulussalam, agar mereka bisa mempertahankan lahan masyarakat demi keberlangsungan hidup warga Desa Kuta Cepu dan Tangga besi. (GER)

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Menjelang Hari Naya Natal dan Tahun Baru (Nataru), Polisi Daerah Aceh akan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara dan Kota Banda Aceh. Dari Analisa Polisi Daerah Aceh, wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan Kamtibmas yang tinggi. Sehingga wilayah itu menjadi fokus pihak kepolisian dalam perayaan Natal dan Tahun Baru di Aceh. “Titik rawan kamtibmas kita lebih fokus ke wilayah perbatasan dengan Medan dan Banda Aceh,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriono, usai menggelar apel gelar pasukan operasi lilin 2019, di markas Polda Aceh, Kamis (19/12). Untuk itu, pihaknya menurunkan 2.435 personel yang terdiri dari Polri, TNI dan organisasi kemasyarakatan untuk mengamankan titik-titik kerawanan di Aceh. Sasarannya, mulai dari lokasi kemasyarakatan yang berhubungan dengan Natal dan Tahun Baru. “Sasaran kita tetap orang yang menyambut Nataru, kemudian tempat seperti rumah ibadah, pelabuhan dan obyek-obyek wisata,” ujarnya. Sejauh ini, kata Ery, kondisi Aceh secara keseluruhan dalam keadaan aman dan kondusif. Ia berharap, hal ini bisa berlangsung hingga berakhirnya perayaan Nataru. “Situasi kamtibnas kita, dalam keadaan aman dan kondusif semoga bisa berlanjut,” ujarnya. Selengkapnya di www.kanalaceh.com #acehbarat #aceh #acehgayo #acehtenggara #acehtenggara #acehtimur #acehbesar #acehsingkil #acehselatan #acehtamiang #kamtib#nataru #polda #tahunbaru

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kanal Aceh (@kanalacehcom) pada

Ads