Ketua Hadrah: Segera Selesaikan Masalah Makam Sultan Badrul Munir

Ketua Himpunan Muda-Mudi Alawiyin Aceh (Hadrah), Sayed Mukhsin Alaydrus. (ist)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Ketua Himpunan Muda-Mudi Alawiyin Aceh (Hadrah), Sayed Mukhsin Alaydrus meminta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk segera menyelesaikan permasalahan, terkait kondisi salah satu situs bersejarah, Makam Sultan Aceh Sultan Syarif Badrul Munir Jamalullail (Sultan Jamaloi), dan juga beberapa makam Ulama dan Habaib yang juga punya kaitan dengan Kesultanan Aceh Darussalam dimasa lalu yang selama ini kondisinya sangat memprihatinkan.

Kata dia, kondisi makam salah satu Sultan Kerajaan Aceh ini kondisinya tidak terawatt, dan lokasinya dihalangi sebuah warung makan di kawasan Mesjid Raya Baiturrahman.

Baca: Aminullah Diminta Serius Selamatkan Situs Makam Sultan Ahlul Bait

Ads

“Seharusnya pemerintah, baik kepala daerah dan instansi terkait segera menyelesaikan permasalahan ini, situs bersejarah ini adalah makam Sultan Aceh yang juga keturunan Rasulullah Saw atau yang dikenal dengan ahlul bait,” katanya melalui keterangannya, Minggu (16/2).

Baca: Miris! di Makam Situs Kerajaan Aceh Dibangun Toilet

Ia menilai, masalah ini terkesan dibiarkan. Menurutnya, pemerintah bisa saja segera mensterilkan lokasi makam ini dan memindahkan lokasi usaha disekitarnya, yang tampak merendahkan makam situs bersejarah dari seorang tokoh yang mulia.

Baca: Makam Bangsawan keturunan Arab di Banda Aceh tercemar limbah sampah

“Kami mendesak pemerintah provinsi, kota Banda Aceh dan perangkat dinas terkait untuk segera menyelesaikan persoalan ini. Kalau memang ada pihak yang menghalangi proses pemugaran situs sejarah ini, kami siap lawan siapaun dia,” tegas Sayid Mukhsin.

Baca: Arkeolog Aceh: Dari 400 makam di Lamuri hanya sebagian yang utuh

Sebelumnya, perbincangan masalah ini sudah dilakukan dan melibatkan Walikota Banda Aceh dan unsur Forkopimda. Namun, tempat usaha yang berada di wilayah kompleks makam masih berdiri.

“Makam seorang Sultan dan keturunan Nabi Muhammad Saw, yang kondisinya memprihatinkan ini jelas memberikan preseden buruk kepada Aceh. Wisatawan yang berkunjung akan beranggapan bahwa kita tidak menghormati sejarah dan leluhur kita bangsa Aceh apalagi dari kalangan ahlul bait. Bukan hanya orang luar saja, terlebih lagi masyarakat Aceh sendiri yang sangat memuliakan indatunya, tentunya sangat menyesali hal semacam ini terjadi,” pungkas Sayid Mukhsin. [Randi/rel]