Unicef Apresiasi Sabang Tangani Malnutrisi dan Stunting

by Diki Arjuna

Sabang (KANALACEH.COM) – Unicef Indonesia mengapresiasi Pemerintah Kota Sabang yang dinilai telah berhasil menangani permasalahan malnutrisi dan kekerdilan (stunting) di wilayah kota paling barat Indonesia itu, sehingga pihaknya terus mendukung keberlanjutan program tersebut.

Kepala Perwakilan Sementara UNICEF Indonesia Robert Gass mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Sabang dalam memastikan upaya lintas sektor yang terintegrasi dalam menangani malnutrisi dan stunting bagi anak, yang salah satunya melalui program Gerakan Untuk Anak Sehat (Geunaseh).

“Program penanganan malnutrisi dan stunting ini patut dicontoh oleh banyak daerah lainnya di Aceh bahkan di Indonesia,” kata Robert di Kota Sabang, Rabu (1/12).

Kepala Bapeda Kota Sabang Faisal menjelaskan pihaknya telah menyampaikan sejumlah capaian program kemitraan antara Pemko Sabang dengan Unicef terkait dengan penanganan malnutrisi dan stunting secara terintegrasi.

“Yaitu program intervensi langsung terkait pola ketersediaan gizi, pengasuhan positif bagi anak, air bersih, sanitasi, serta kesehatan Ibu dan anak,” kata Faisal Azwar.

Ia menjelaskan melalui program Geunaseh, setiap anak berusia 0-6 tahun di Sabang berhak mendapatkan bantuan uang tunai sebesar Rp150 ribu setiap bulan dengan syarat bagi orangtua rutin membawa anaknya ke Posyandu.

Melalui program ini, lebih dari 5.000 anak telah menerima bantuan sejak 2019, sehingga Pemko Sabang mencatat kenaikan kunjungan ke Posyandu secara signifikan yang mencapai angka 95 persen pada 2021 dari sebelumnya hanya 65 persen.

“Pendaftaran program ini yang mengharuskan kepemilikan akte kelahiran juga telah berkontribusi pada peningkatan pendataan catatan sipil di Kota Sabang,” kata Faisal.

Sejak 2019, lanjut dia, Pemerintah Kota Sabang telah bekerjasama dengan Unicef Indonesia, tidak hanya dalam bentuk dukungan teknis bagi terselenggaranya Program Geunaseh, melainkan juga dalam mengatasi permasalahan malnutrisi ibu dan anak lintas sektor, mulai dari kesehatan, gizi yang cukup, sanitasi, pengasuhan positif anak hingga perlindungan sosial.

“Karena penanganan malnutrisi anak disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, mulai dari penanganan balita sakit yang tidak mumpuni, pemberian asupan gizi untuk bayi dan anak yang tidak tepat, kebersihan lingkungan yang minim dengan maraknya praktik buang air besar sembarangan (BABS), pengasuhan orang tua yang tidak tepat, hingga absennya perlindungan inklusif bagi anak dari kemiskinan,” katanya.

You may also like