Kemenag Gandeng Perguruan Tinggi Percepat Rehab Rekon Pascabencana Aceh

Kondisi di salah satu desa di Pidie Jaya setelah 40 hari pascabencana banjir. (Kanal Aceh/Randi)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi di Aceh untuk mempercepat pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi melalui sinergi pemulihan di sektor pendidikan dan layanan sosial.

Komitmen tersebut disampaikan Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan HAM, H. Faisal Ali Hasyim, dalam Diskusi Publik Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Provinsi Aceh yang digelar Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Aceh di Event Hall AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Jumat.

“Kita akan terus kebut proses pemulihan ini. Insya Allah hingga September nanti kita targetkan capaian pemulihan dapat berlangsung secara maksimal,” kata Faisal.

Menurut dia, Menteri Agama memberikan perhatian khusus terhadap percepatan pemulihan dampak bencana di Aceh. Karena itu, Kemenag akan terus mengakselerasi berbagai langkah rehabilitasi agar target pemulihan dapat tercapai.

Faisal juga meminta seluruh pihak yang menangani data kerusakan di lingkungan Kementerian Agama memastikan validitas data penerima bantuan agar tidak ada masyarakat terdampak yang terlewat. Selain itu, para rektor perguruan tinggi diminta mengidentifikasi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana agar dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan.

Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Mirza Tabrani, mengatakan kampus siap mendukung mahasiswa terdampak agar tetap dapat melanjutkan pendidikan melalui penyediaan beasiswa, layanan kesehatan, serta pelibatan tenaga medis dan sivitas akademika dalam membantu masyarakat di wilayah terdampak.

Dalam diskusi tersebut, sebanyak 12 rektor perguruan tinggi negeri dan swasta di Aceh turut menyampaikan masukan untuk memperkuat percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Mujiburrahman, menilai proses pemulihan perlu mengedepankan local wisdom agar pembangunan pascabencana tetap selaras dengan nilai, budaya, dan karakter masyarakat Aceh.

Sementara itu, Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra di Aceh, Safrizal ZA, mengatakan forum tersebut menjadi wadah menyatukan pandangan, menyampaikan perkembangan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, sekaligus menghimpun masukan dari kalangan akademisi.

“Masukan dari perguruan tinggi sangat penting agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” kata Safrizal.

Satgas PRR terus memantau kemajuan pemulihan melalui 13 indikator yang mencakup penyelenggaraan pemerintahan, layanan kesehatan, pendidikan, konektivitas jalan dan jembatan, pemulihan ekonomi, rumah ibadah, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga penanganan masyarakat terdampak sebagai bagian dari percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.

Related posts