Buru Cadangan Migas, BPMA dan PGE Resmi Mulai Pengeboran Sumur Eksplorasi Rayeu D-1

BPMA dan PGE Resmi Memulai Pengeboran Sumur Eksplorasi Rayeu D-1. (ist)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) resmi mengebor sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Langkah ini diambil guna membuktikan potensi hidrokarbon sekaligus memburu cadangan minyak dan gas bumi (migas) baru di Wilayah Kerja (WK) B, Aceh.

Kepala BPMA, Mawardi Nur menyatakan bahwa pengeboran Rayeu D-1 menjadi pijakan strategis dalam menggenjot kegiatan eksplorasi demi menjaga keberlanjutan produksi migas Aceh di masa mendatang.

“Pengeboran Rayeu D-1 merupakan bagian dari upaya kita untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif sehingga mampu menambah potensi cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja Blok B,” ujar Mawardi di Banda Aceh, Ahad (1/11).

Kendati demikian, Mawardi mengingatkan agar semua pihak tetap realistis. Potensi yang teridentifikasi dari studi teknis masih harus dibuktikan secara empiris di lapangan dan belum tentu otomatis berlanjut ke tahap komersialisasi.

“Hasilnya harus melalui evaluasi teknis untuk memastikan keberadaan hidrokarbon serta kelayakannya untuk dikembangkan secara komersial. Potensi yang terlihat dari studi harus dibuktikan melalui pengeboran, kemudian dinilai apakah layak dikembangkan atau tidak,” tambahnya.

Secara teknis, sumur Rayeu D-1 dibor secara berarah (directional drilling) memanfaatkan Rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP milik PT Bina Mitra Artha (BMA). Pengeboran dibidik mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki feet measured depth (feetMD) atau kedalaman vertikal 6.894 kaki true vertical depth (TVD).

Operasi ini ditujukan untuk memverifikasi data survei seismik 3D serta membuktikan keberadaan hidrokarbon pada prospek Rayeu D. Reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, khususnya lapisan LS-1 dan LS-2, menjadi target utama dan sekunder dalam proyek yang didasari studi Geology, Geophysics, and Reservoir (GGR) hasil kerja sama PGE dan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Jika evaluasi teknis membuahkan hasil manis, PGE membidik potensi produksi awal mencapai 300 barel kondensat per hari (barrels of condensate per day/BCPD) dan gas sebesar 11,4 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).

Proyek eksplorasi ini menyedot alokasi investasi berdasarkan persetujuan Authorization for Expenditure (AFE) senilai US$ 17,5 juta. Durasi operasi rig diperkirakan memakan waktu 50 hari, sedangkan keseluruhan siklus kegiatan hingga well testing dan clean-up well ditargetkan tuntas dalam 74 hari.

Mawardi pun menegaskan krusialnya aspek keselamatan kerja (safety) dan perlindungan lingkungan sepanjang proyek berjalan. BPMA berkomitmen mengetatkan pengawasan agar seluruh komitmen investasi dan program kerja KKKS berjalan sesuai koridor hukum serta prinsip cost-effectiveness.

“Setiap kegiatan eksplorasi memiliki tantangan dan risiko tersendiri. Kami meminta seluruh pihak memastikan standar keselamatan kerja diterapkan secara konsisten. Keberhasilan pengeboran tidak hanya diukur dari pencapaian target teknis, tetapi juga dari pelaksanaan operasi yang aman dan bertanggung jawab,” pungkas Mawardi.

Related posts