Sebentar yang berkesan bagi Ida Soedarmo

Sebentar yang berkesan bagi Ida Soedarmo
Ketua Penggerak PKK Aceh, Ida Yuliati Soedarmo menangis haru usai menyampaikan sambutan pada penutupan kegiatan Pelatihan Hypnosis Trauma Healing di Pendopo Gubernur, Banda Aceh, Rabu (1/2). (Ist)
--Ads--
loading...

IDA Yuliati Soedarmo berpamitan dengan mata berkaca. Sebuah momentum perpisahan yang mengharukan. Waktu bertugas di Serambi Mekkah memang belum usai.

Masih ada dua pekan lagi bagi istri Pelaksana Tugas Gubernur Aceh itu untuk terlibat langsung mengabdi membangun Aceh. Namun pada momentum pembubaran panitia bakti sosial peduli gempa bumi Pidie Jaya, Ida Yuliati Soedarmo berpamitan.

“Tiga bulan setengah di Aceh menjadi sangat singkat. Ada kasih sayang yang tulus yang kami terima di sini,” ujar Ida dengan raut sedih.

Ads

Sungguh benar apa yang biasa Ida dengar: orang Aceh sangat memuliakan tamu. Tapi Ida merasa, mereka bukan lagi tamu. “Saya merasa menjadi bagian dari orang Aceh,” ujar Ida di hadapan tamu dari organisasi perempuan Aceh pada awal Februari 2017.

Ida yang juga Ketua Penggerak PKK Provinsi Aceh, meminta maaf jika selama di Aceh pernah menuturkan sesuatu hal yang salah. Hal itu, kata Ida tak lebih dari perbedayaan budaya semata dan bukan suatu kesengajaan.

“Saya ingin sampaikan rasa cinta keluarga saya untuk semua warga Aceh yang telah menerima kami sebagai bagian dari kita semua,” kata Ida.

Ida Soedarmo berharap, persaudaraan yang telah dijalin khususnya antar sesama perempuan bisa selalu terjadi. Sungguh, kata Ida, ia merasakan pertemanan dan persaudaraan yang benar-benar iklas.

“Semoga tali silaturrahmi ini kekal selalu. Maaf jika ada salah dan terima kasih untuk keiklasannya,” ujar Ida dengan nada terbata. Semua yang hadir terharu.

Ibu-ibu dari kumpulan PKK Aceh, Dekranas Aceh, Persit dan Bhayangkari kemudian menyambut Ida yang turun podium dengan pelukan. Ada haru yang terbersit dari wajah mereka.

Samsiarni Dermawan, Istri Sekda Aceh, bahkan punya kesan mendalam selama mendampingi Ida Yuliati. Ida dipandang sebagai sosok yang iklas bekerja tanpa pamrih. Lihat saja saat gempa bumi Pidie Jaya dan banjir Aceh Singkil.

Ida langsung mengumpulkan ibu-ibu dari organisasi perempuan, mengadakan pertemuan membahaskan rencana aksi sosial.

“Bu Ida langsung berkoordinasi untuk membahas apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi beban korban gempabumi dan banjir,” ujar Samsiarni Dermawan membahas kesigapan Ida Soedarmo.

Samsiarni memandang, Ida adalah sosok yang tulus dan iklas. Ia bekerja tanpa pamri dalam membangun Aceh. “Saya yakin beliau akan merindui Aceh seperti kami merindui beliau,” ujar Samsiarni.

Ida memang bukan orang Aceh. Kesukuan yang berbeda membuat Muaizah Wahab, istri mantan ketua DPR Aceh berkesan canggung saat pertama berjumpa Ida. Ia segan: barangkali kebiasaan mereka berbeda. Namun tidak demikian ketika mereka berjumpa, saling sapa dan bekerja bersama.

“Beliau bukan orang Aceh. Tapi setelah berkenalan dan bekerjasama dengan beliau, bu Ida sosok yang sangat baik dan ramah,” kata Muaizah.

Meski cuma sesaat, Ida Soedarmo, ujar Muaizah, melihat Aceh seperti kampung halaman sendiri. Kerjasama yang dibangun dengan istri-istri pejabat pemerintah Aceh, dilakukan dengan luwes dan terbuka. Muaizah berharap, kerjasama tersebut bisa terus berkelanjutan.

“Beliau sangat tulus membantu Aceh,” kata Muaizah. Hal itu terlihat dari kelakuan Ida Soedarmo yang membangun hubungan dengan semua orang tanpa membedakan siapa pun. “Di mata beliau semua sama. Dan itu yang membuat beliau istimewa,” ujar Muaizah.

Ida Soedarmo bertugas selama tiga bulan setengah di Aceh. Ia mendampingi Soedarmo yang ditunjuk Mendagri Tjahjo Kumulo untuk menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, selama Zaini Abdullah mengambil cuti kampanye pemilu.

Selama di Aceh, Ida Soedarmo aktif dalam organisasi perempuan seperti PKK dan aktif pula sebagai penggerak kaum perempuan dalam memberikan bantuan sosial bagi ibu dan anak di seluruh Aceh. Ia juga menjadi penggagas pendirian kembali rumah sekolah yang rusak akibat gempabumi di Pidie Jaya.

Dia berhasil mengumpulkan dana dari organisasi-organisasi perempuan dan anak-anak sekolah di pulau Jawa untuk membantu meringankan korban bencana di Aceh.

Sungguh, waktu sebentar yang begitu berkesan. [Aidil/rel]