Longsor di Ponorogo, Gubernur jelaskan penyebab tanah runtuh

Longsor di Ponorogo, Gubernur jelaskan penyebab tanah runtuh
Rumah di Desa Banaran, Pulung, Ponorogo, tertimbun longsor, pada Sabtu (1/4). (Antara)
--Ads--
loading...

Surabaya (KANALACEH.COM) – Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengatakan peringatan dini bencana longsor Ponorogo sebenarnya sudah ada sejak seminggu sebelum kejadian. Hanya saja, beberapa warga kembali naik saat longsor terjadi.

Menurut dia, alasan warga tersebut ialah karena ingin memanen jahe. Bencana longsor yang menerjang pemukiman warga dan menimbulkan korban jiwa tersebut terjadi di Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada Sabtu (1/4) pukul 06.00 WIB.

“Sejatinya peringatan dini atau early warning sudah berjalan baik, bahkan bertahap juga sudah ditulis saat tanah turun 15 cm, turun 20 cm, dan seterusnya,” kata Soekarwo di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (3/4).

Ads

Terkait penyebab bencana, Soekarwo menuturkan, sebagian besar warga desa Banaran menanam tanaman yang tidak memiliki akar tunjang atau akar kuat.

Sehingga ketika hujan deras, Soekarwo melanjutkan, tanah di atas tidak kuat menahan air, kemudian menyebabkan longsor. Kondisi tanah di desa tersebut subur, sehingga masyarakat menanam tanaman yang tidak punya akar tunjang atau cepat panen seperti jahe.

“Kami minta bantuan Perhutani, tanaman apa yang kira-kira sebanding dengan jahe keuntungannya tapi punya akar yang kuat. Misalnya ditanami sengon, di bawahnya baru ditanami jahe,” tutur Soekarwo.

Soekarwo menambahkan, proses evakuasi korban akan terus berlangsung. Sedangkan untuk batas waktu pencarian korban, Soekarwo menjamin proses ini akan dilakukan hingga semua korban ditemukan.

“Dari para tokoh mengimbau agar proses ini akan terus dilakukan sampai semua korban ditemukan,” ujar Soekarwo.

Soal penanganan bencana tanah longsor, Soekarwo mengatakan hal itu menjadi tanggungjawab Pemprov Jatim dan Pemkab Ponorogo. Soekarwo mengaku sudah menyampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di pusat. Terkait hal tersebut. “Pemerintah pusat sifatnya hanya mendampingi dan memfasilitasi,” ucap dia. [Tempo]

Ads