Aspero, dulu kombatan GAM kini pembudidaya lada

Aspero, dulu kombatan GAM kini pembudidaya lada
Aspero, mantan kombatan GAM yang kini jadi pembudidaya lada di Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Aceh Utara. (Kanal Aceh/Rajali Samidan)

MANTAN kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Sagoe Paya Poe, Aspero (40) atau biasa disapa Teuntra Rumeh, saat ini sibuk aktif membudidayakan tanaman lada di Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Aceh Utara.

Aspero mengaku tertarik membudiyakan tanaman lada tersebut, karena selain harganya mahal, masa produksi tanaman tersebut juga lama. Selain ditanami lada jenis perdu, di kebun seluas 4.000 meter itu juga ditanami lada jenis panjat.

Di sela-sela kesibukannya membersihkan rumput liar di kebun lada miliknya, Aspero mengatakan bahwa dirinya sering ikut perang antara GAM dengan aparat keamanan RI.

Ads
Tanaman lada di kebun milik Aspero di Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Aceh Utara. (Kanal Aceh/Rajali Samidan)

“Sebelum Aceh kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saya kerap terlibat kontak tembak dengan aparat keamanan,” katanya kepada Kanalaceh.com, Jumat (26/1).

Namun, buku masa konflik itu telah ditutup rapat oleh Aspero. Kini dirinya membuka lembaran baru. Pada mula terjun ke kalangan masyarakat biasa, Aspero pernah membuka lembaga (Cefold), yaitu pusat pelatihan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab bagi anak keluarga kurang mampu.

Agar pelatihan berjalan, dia pun mengundang pemateri yang bisa berbahasa Inggris dan Arab untuk megajari anak anak kurang mampu. Karena kurang modal, lembaganya pun tidak bertahan lama dan terpaksa harus ditutup.

“Padahal sudah banyak peserta dari anak keluarga kurang  mampu. Karena kurang modal ya harus ditutup. Waktu itu, saya hanya menceritakan pada Pemerintah Aceh Utara, bahkan ada lembaga yang bergerak di bidang ini, kalau mau dibantu ya dibantu, kalau tidak bantu ya tidak apa-apa, saya tidak pernah mengajukan proposal,” kata Aspero.

Setelah lembaganya tutup, Aspero kemudian banting setir dan terjun ke kebun milik warga setempat. Di kebun itulah, Aspero menjadi petani lada untuk merajut harapan menghidupi keluarganya.

Aspero menambahkan, mulai membudiyakan lada dengan modal Rp kurang lebih 8 juta. Uang tersebut dia keluarkan dari kantongnya sendiri. Saat ini lada-lada itu sudah berumur dua tahun, dan tidak lama lagi Aspero dapat menikmati hasil.

Tanaman lada di kebun milik Aspero di Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Aceh Utara. (Kanal Aceh/Rajali Samidan)

“Mungkin satu tahun lagi sudah bisa panen. Terus terang saya tidak bisa cara membudidayakan lada, selama ini belajar dari internet, mencari di google cara membudidayakan lada. Saya sangat mengharapkan Pemerintah Aceh Utara memberikan pelatihan cara membudidakan lada. Selain itu, lada-lada ini juga butuh pemupukan, saya mengharapkan bantuan dari pemerintah,” ujar pria tamatan Sekolah Menengat Atas (SMA) ini.

Aspero juga menuturkan, meskipun lahannya itu di lingkungan proyek raksasa, Pertamina Hulu Energi (PHE -NSO), dia mengaku tidak pernah meminta bantuan.

“Saya ingin memperlihatkan hasil kerja. Saya berharap supaya masyarakat mau membudidayakan lada setidaknya di pekarangan rumah masing-masing. Budidayakan lada akan menjaga keseburan tanah, berbeda dengan tanaman sawit,” jelasnya. [Rajali Samidan]

Ads