Pasien koma diminta pulang, Direktur RSUZA bantah

Pasien koma diminta pulang, Direktur RSUZA bantah
M Natsir, pasien yang koma dan sedang menjalani perawatan karena menderita penyakit komplikasi di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh. (Kompas.com)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Seorang pasien asal Sigli yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, mendadak diminta untuk segera meninggalkan rumah sakit meski sedang dalam kondisi masih terbaring.

Insiden yang melanda pasien bernama M Natsir itu beredar cepat. Nandi anak pasien saat dikonfirmasi membenarkan insiden yang menimpa orang tuanya itu.

Nandi mengatakan, pihak manajemen meminta ayahnya untuk meninggalkan rumah sakit dengan alasan pasien harus didata ulang sehingga harus dipulangkan setelah dilakukan pencucian darah.

Ads

“Alasannya mau didata ulang sementara ayah sedang koma. Kami tidak terimalah gimana engga keberatan ayah diminta harus pulang,” ujar Nandi kepada wartawan di RSUZA, Kamis (22/2).

Nandi mengakui kalau pihak keluarga belum mengetahui alasan yang jelas tentang ayahnya yang mendadak diminta untuk pulang. Katanya, pihak rumah sakit sudah mengatakan hal itu ke keluarganya.

Direktur RSUZA, Fachrul Jamal membantah pihak rumah sakit memulang paksakan pasien. Kata dia, hal itu hanya ada komunikasi terputus antara dokter pendamping dengan pasien.

Dikataknnya, pasien yang menderita penyakit komplikasi tumor ginjal, infeksi saluran air seni dan stroke itu belum bisa pulang. Jikapun diberi pulang, harus sesuai prosedur.

Salah satunya Homecare, atau rumah pasien harus berdekatan dengan pusat pelayanan kesehatan.

“Kasus yang seperti ini bisa disebut Homecare, bisa dibawa pulang. Atau seminggu sekali dibawa ke klinik. Persyaratan itu jika dipenuhi baru bisa diberikan pulang,” kata Fachrul Jamal, ditemui wartawan di RSUZA.

Menurutnya, pihak keluarga pasien hanya panik saat mendengar keterangan dari dokter pendamping. Pasalnya, dokter pendamping itu tidak menjelaskan secara jelas kepada pasien. Sehingga ada komunikasi yang terputus.

“Saya sudah komunikasi dengan dokter dan case manager bahwa yang terjadi adalah proses penyampaian informasi tidak lengkap. Dokter tidak pernah bercerita bahwa pasien harus dibawa pulang paksa. Beliau tidak pernah menyampaikan itu,” kata dia.

Sementara itu, dokter yang menangani pasien, dr Masra Lena mengungkapkan, kondisi pasien saat ini sangat lemah. Sejak tiga minggu lalu diperiksa di ruang isolasi.

“Jadi dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin kami memulangkan pasien itu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pasien butuh pengobatan lebih lanjut. Jika harus dipulangkan, harus ada keputusan dari dokter. Jadi tidak sembarangan untuk diberi pulang. Harus ada persiapan sebelumnya.

“Keluarga pasien hanya panik. Mungkin ada dokter yang mengatakan dalam waktu dekat sudah bisa pulang, tanpa menjelaskan lebih rinci, jadi keluarga pasie jadi panik, apalagi dalam kondisi pasien yang masih koma,” ujarnya. [Randi]

Ads