Politik belah bambu vs Politik belah duren, Siapa untung?

Politik belah bambu vs Politik belah duren, Siapa untung?
Helmi Abu Bakar El-langkawi.

Oleh: Helmi Abu Bakar El-langkawi

KEHIDUPAN di dunia ini tidak dapat dipisahkan dari dunia perpolitikan termasuk di negeri ini. Arus dan arah  politik tergantung dengan kondisi dan multi kepentingan. Bahkan terdengar dan tercium juga multi adonan dan aroma politik sesuai selera dan ambisi. Diantara aroma perpolitikan kita sering terasa berbau amis sangat menyengat, tentu  saja ini karena terlepas dari kejujuran dan keadilan dalam berpolitik.

Satu diantaranya adalah “politik belah bambu” (PBB). Kita akan bertanya-tanya apa itu PBB? Tentu saja atas penasaran itu terus berusaha untuk melihat dari perspektifnya dengan mengumpulkan beberapa kajian. Orang awam memaknai politik sebagai sebuah strategi untuk mencapai tujuan atas dasar kesamaan kepentingan. Satu diantara strategi yang sering digunakan adalah politik belah bambu.

Perhatikanlah ketika orang membelah bambu, belahan yang satu diangkat dan belahan lainnya diinjak (angkat dan injak). Semakin ingin satu belahan bambu diangkat lebih tinggi, semakin kuat pula kaki menekan belahan bambu yang sedang tertinjak tadi, demikian sebaliknya.

Politik belah bambu merupakan sebuah strategi yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan melalui upaya menempatkan lawan politik, kompetitor atau saingannya berada pada posisi di bawah yang terinjak, sementara di bagian lain mengangkat pihak yang mendukungnya. Sebagai manusia biasa maka wajar bila hal ini terjadi, atau dilakukan apalagi dalam area politik.

Menarik memang ungkapan PBB dan itu merupakan salah satu praktek dalam konteks sama-sama berbuat salah, tetapi satu diangkat atau dipuji sedang satunya diinjak ataupun dihinakan. Berdasarkan paparan tersebut realita dalam masyarakat aksi politik demikian kerap menjadi tontonan sehari-hari dalam pencaturan politik yang terkadang memuakkan.

Padahal kalau kita sedikit merunduk dalam kacamata, tentu saja sikap jujur dan adil dalam berpolitik menjadi acuan dan pegangan. Maka alangkah mulianya model politik ini yang pada capaiannya adalah untuk kebaikan publik. Tetapi terkadang yang nampak dan terpahami dari fenomena dalam masyarakat proses PBB itu memang karena kepentingan personal, inilah yang mendorong libido politisi untuk melakukan politik belah bambu.

Istilah-istilah seperti menjegal, menjebak, menohok kawan seiring, bahkan pembunuhan karakter (caracter asasination) sepertinya bukan barang tabu bagi politisi. Aktor politisi malah menganggap penggunaan istilah-istilah tersebut tentunya untuk mencapai tujuan mereka, kendatipun itu suatu kedzaliman. Sehingga kelaziman sebagai pribadi yang beragama menjadi terserabut dalam budaya pergaulan publik.

Pada saat seperti itulah orang mengatakan bahwa politik itu kotor dan menjijikkan, walaupun pernyataan ini tidak semuanya benar, tetapi paling tidak ada benarnya juga sebahagiannya. Kita mengetahui bahwa berpolitik seperti itu sesungguhnya hanya mempertinggi tempat jatuh, atau menunggu datang masa penderitaan karena kanker politik yang menggerogoti tubuh politisi.

Tentu saja filosofi belah bambu yaitu mengangkat bagian yang satu dan menginjak bagian yang lain, meskipun terkesan menginjak dan mengangkat tapi kedua belahannya sama-sama dipakai bahkan tak selamanya bagian yang diangkat akan dipakai bila bagian bambu itu tidak lurus ataupun rapuh. Meskipun praktek politik belah bambu ini adalah “praktek menginjak”. Lantas bagaimana dengan Politik Belah Durian (PBD)?

Politik Belah Duren (PBD)

Para “mujtahid” politik yang telah melahirkan kedua kajian ini tentu keduanya sama-sama menginjak. Padahal istilah belah duren itu lahir lewat pedangdut ternama almarhum Julia Perez alias Jupe. Namun yang kita bahas disini bukanlah belah duren ala Jupe. Melainkan kita membahas belah duren dari perspektif politik.

Sebagian penggiat dan pengamat politik, politik belah duren berarti membagi kekuasaan yang dilakukan dengan cara menyiarkan kemasyarakat. Seolah-olah melibatkan dan untuk masyarakat padahal hanya bagi kekuasaan dikelompok mereka saja, atau hanya janji-janji diberikan duren tapi yang didapat hanyalah aromanya yang menyengat dan membius, karena buahnya sudah dimakan oleh orang-orang terdekat yang dengan mudah mendapatkan duren itu.

Tentu saja makna yang terkandung dalam belah duren, yaitu untuk mendapatkan isi buahnya dengan menggunakan cara menginjak, tapi hanya buahnya saja yang diambil sementara biji dan kulitnya dibuang, sehingga terkesan bahwa politik ini hanya mau yang enaknya saja yang pahit dan berduri (biji dan kulit dibuang).

Dua jargon politik baik PBB dan PBD sering menghiasi dunia perpolitikan kita. Tentu saja aroma keduanya sangat “amis” dan semerbak walaupun ada plus minusnya. Membaca dan melihat dalam ruang lingkup daerah baik kabupaten/kota, provinsi maupun negara bahkan dunia sekalipun sungguh sangat banyak mereka yang terdhalimi.

Bukankah kalaupun mereka tidak mampu membalasnya dengan segala keterbatasan dan kedudukannya, tentunya doa dan pinta mereka kepada sang Ilahi sungguh menjadi “bom atom” yang akan menguncang dunia dan sang pelaku plus kroninya.

Hal ini sebagaimana terungkap dalam risalah agama yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya. Apa gerangan yang sangat membahayakan dari sang tertindas? Tentunya karena doanya orang-orang teraniaya itu pasti terkabul dan tanpa hijab. Sebagaimana bunyi sabda Rasullah SAW: “Al-dua’ul mazlum mustajabah” (doanya orang teraniaya itu terkabul).

Hadist diatas kalau disadari oleh para politisi tentunya tidak akan berani bermain politik model belah bambu. Tetapi persoalannya adalah politisi pada umumnya menggunakan logika politik primitif, yaitu mencapai tujuan menghalalkan segala cara. Bukan logika politik agama (siyasah syari’yyah) yaitu berusaha meraih kekuasaan secara legal untuk kebaikan masyarakat (li al maslahat al a’m).

Oleh karenanya, permainan politik tersebut hanyalah memperburuk keadaan bukan melepaskan penderitaan publik dan menggantinya dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Sehingga dapatlah dimengerti mengapa tingkat partisipasi masyarakat terhadap pesta demokrasi politik mulai memudar.

Jadi politik belah bambu dan politik belah duren dengan segala kroni-kroninya itu sesungguhnya memelihara kanker politik untuk politisi dan membunuh masyarakat secara perlahan tapi pasti. Itulah sebabnya Allah SWT memerintahkan pada manusia untuk menolong dan berbuat kebajikan terhadap sesama dan melarang manusia untuk perbuatan-perbuatan buruk (destruktif).

Menyikapi fenomena politik tersebut, Robert Greene pernah mengingatkan kita dalam petuahnya berbunyi, “Semua pemimpin yang baik sejak zaman Musa tahu bahwa seorang musuh yang ditakuti harus dihancurkan secara total. Jika ada satu bara api yang dibiarkan menyala, betapapun suramnya ia, pada akhirnya nanti kebakaran pasti terjadi. Musuh akan memulihkan diri dan berusaha membalas dendam. Hancurkan dia, bukan hanya tubuh jasmaninya, melainkan juga semangatnya”.

Semoga fenomena politik belah bambu dan politik belah duren yang marak akhir-akhir ini cukup menjadi pelajaran dan memberi pencerahan kepada rakyat atau konstituen agar lebih cerdas memilih pemimpinnya. Karena pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang tangannya berlumur darah dan pemimpin yang memperoleh kemenangan melalui persekongkolan jahat, melainkan pemimpin yang memiliki kekuatan karakter.

Politisi yang mendasari etika dan estetikanya agama dalam praktek politik tentunya berusaha menjauhi melakukan politik belah bambu dan politk belah duren, apalagi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Artinya, praktek politik belah bambu dan belah duren itu hanya dilakukan oleh politisi yang tidak beragama saja.

Lantas kapan kita bisa menjemput dan mewarnai perpolitikan kita dengan kebaikan dan revolusi mental menuju negeri baldatun tayyibatun warabbulghafur? Semoga..!!!

*Penulis merupakan penggiat literasi asal Ulee Glee, Pidie Jaya dan pengajar di Dayah Mudi Masjid Raya Samalanga, Bireuen.

Komentar Facebook
Ads