Menimbang Kautsar Untuk Banda Aceh

--Ads--
loading...

Menimbang Kautsar

Sebagaimana ulasan diatas, Banda Aceh sudah pasti masuk radar target wilayah kemenangan Partai Demokrat secara nasional. Partai Demokrat Banda Aceh punya banyak pilihan kader potensial untuk diusung sebagai calon walikota. Nama Kautsar memang belum dibahas di sosial media dan polling online.

Namun seluruh kader dari tingkat pusat sampai ranting, siapapun dia harus dikalkulasi sebagai potensi. Menimbang masuknya Kautsar ke lantai bursa kandidat walikota Banda Aceh yang saat ini menjadi pengurus DPP Partai Demokrat tentu tidak  bisa diabaikan. Justru jikalau nanti Kautsar tampil sebagai calon kandidat ini akan menjadi ‘faktor X’.

Ads
(Foto: dialeksis)

Menjadi menarik karena yang bertanggung jawab untuk menyusun strategi meraih kemenangan pilkada adalah Andi Arief yang dipercaya sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP Partai Demokrat.

Andi Arief merupakan rekan seperjuangan Kautsar sesama aktivis eksponen ’98. Chemistry ini harus dihitung sebagai permulaan mengambil ancang-ancang menerjunkan Kautsar bertarung di pilkada Banda Aceh. Berbicara pengalaman di pemerintahan, Kautsar sama saja dengan seluruh kader potensial yang sudah muncul sebagai bakal calon Walikota Banda Aceh.

Kesemuanya sama-sama pernah menjadi legislator. Bedanya Kautsar di level provinsi, yang lainnya di kota Banda Aceh. Tugas Andi Arief tinggal menempatkan nama Kautsar sebagai bakal calon untuk kemudian di survey secara internal. Biarkan survey yang membuktikan sambil mulai memikirkan tagline kampanye. Slogan perjuangan nasional “Mari Bung Rebut Kembali!” atau memplesetkan tagline kampanye Ronald Reagan yang diikuti Donald Trump “Make Banda Aceh Great Again” mungkin bisa jadi alternatif pilihan.

Dalam sudut pandang marketing politik, Kautsar punya modal politik dan nilai jual unik. Secara figur saya melihatnya ibarat mugee eungkot (penjual ikan keliling dengan sepeda motor membawa dua keranjang ikan dikedua sisi), “satu jiwa dua raga”. Jiwanya aktivis intelektual, raganya kader Partai Demokrat sekaligus Partai Aceh, kombinasi partai nasional dan partai lokal.

Belum lagi menghitung basis tradisional keluarga dimana ayahanda Abu Yus merupakan tokoh politik Pidie dan sepuh PPP di Aceh. Kautsar punya pengalaman panjang dalam organisasi pelajar hingga mahasiswa.

Di PII, HMI, dan SMUR Kautsar terbentur dan terbentuk. Dikader dan mengkader. Para mentor, sejawat dan barisan kader itu tersebar di banyak tempat dan profesi. Segala lini mulai birokrat hingga swasta. Syahdan, pemain politik utama di Aceh saat ini, para pengatur kebijakan pemerintah dan keputusan politik bisa dibilang rekan se-angkatan Kautsar. Singkatnya Kautsar punya modalitas politik yang kuat dari jalan Teuku Nyak Arief hingga menyatukan dua kampus jantong hatee rakyat Aceh di Darussalam apabila diusung sebagai calon kandidat Walikota.

Namun ada beberapa catatan yang saya analisa akan menjadi hambatan dan tantangan bagi Kautsar andai dirinya unggul dalam survey internal Partai Demokrat. Pertama, penerimaan kader akar rumput partai.

Elite partai tingkat pusat boleh memutuskan, tapi yang menentukan strategi dan kerja politik sukses adalah kader-kader di tingkat bawah dari kecamatan sampai ranting. Ada banyak kasus dimana kader akar rumput tidak bekerja maksimal akibat sosok yang diusung bukan idaman kader tingkat bawah. Kautsar orang baru di Partai Demokrat.

Tidak berjibaku membangun struktur partai. Legislator Partai Demokrat dan pimpinan partai di Banda Aceh juga bisa ambil sikap matikan mesin imbas dari kecewa batal diusung oleh partai.

Kedua, Kautsar akan dihadapkan pada kondisi in between ‘dua raga’. Dua figur Ketua Partai, Nova Iriansyah dan Muzakkir Manaf Ketua Partai Aceh menjadi dua nama yang hampir pasti bertarung di pilkada Gubernur Aceh 2022.

Akibat lanskap pilkada serentak, potensi meraih ceruk suara di dua partai sekaligus untuk kota Banda Aceh akan menemukan banyak rintangan. Hambatan-rintang ini berpotensi bergulir menjadi sentimen negatif dalam kerja politik di basis pemilih. Mendamaikan hambatan ini bisa saja dengan solusi menggandeng kader Partai Aceh sebagai pasangan wakil walikota.

Tapi sebaliknya akan merepotkan Nova untuk mendulang suara maksimal di wilayah basis partai. Poin ini selalu menjadi tantangan dari kebutuhan kerja politik paralel pilkada serentak.

Ads