8 Kebiasaan Baru Penumpang Pesawat di Bandara SIM Menuju New Normal

  • Whatsapp
(Foto: dok Bandara SIM)

Aceh Besar (KANALACEH.COM) – Pandemi virus corona (Covid-19) membawa perubahan di sektor penerbangan dunia termasuk juga di Indonesia.

Di Indonesia, stakeholder penerbangan nasional merespons pandemi dengan melakukan adaptasi supaya operasional penerbangan khususnya tetap terjaga.

Penumpang pesawat misalnya melakukan adaptasi kebiasaan baru untuk menuju new normal dengan mengubah perilaku yang lebih mengedepankan aspek kesehatan dan kebersihan.

“Pemandangan penumpang pesawat yang berhenti di depan mesin otomatis hand sanitizer untuk kemudian membersihkan tangan adalah hal yang biasa. Mereka kini lebih memperhatikan aspek kesehatan dan kebersihan,” kata Executive General Manager Bandara SIM Indra Gunawan dalam keterangannya, Minggu (14/6).

Berikut kebiasaan baru penumpang pesawat dan pengunjung di Bandara Sultan Iskandar Muda;

  1. Menggunakan masker

Penggunaan masker juga menjadi kebiasaan baru bagi penumpang pesawat, bahkan menjadi suatu hal yang wajib. Penumpang menggunakan masker mulai dari bandara hingga saat berada di pesawat.

  1. Sering mencuci tangan

Penumpang pesawat dan pengunjung bandara menjadi lebih sering mencuci tangan baik itu menggunakan hand sanitizer mau pun dengan air mengalir di wastafel.

  1. Menerapkan physical distancing

Penumpang pesawat kini sangat memahami pentingnya physical distancing. Di ruang tunggu (boarding lounge) atau di titik-titik antrean, penumpang pesawat menerapkan physical distancing bahkan terkadang tanpa diingatkan.

  1. Menjalani PCR Test atau Rapid-test

Di masa adaptasi kebiasaan baru ini, setiap penumpang pesawat harus melakukan PCR test dengan hasil negatif COVID-19 dan rapid-test dengan hasil non-reaktif COVID-19.

  1. Membawa dokumen sebagai syarat perjalanan

Bagi penumpang rute domestik saat ini diwajibkan membawa identitas diri dan dokumen surat hasil PCR test (berlaku 7 hari pada saat keberangkatan) atau rapid-test (berlaku 3 hari pada saat keberangkatan) untuk diperiksa di bandara.

  1. Tiba lebih awal 2-3 jam

Di tengah pandemi, penumpang pesawat juga sangat mematuhi prosedur penerbangan yang ditetapkan pemerintah.

“Dibandingkan dengan kondisi normal, penumpang pesawat kini tiba di bandara jauh lebih awal untuk memproses keberangkatan. Biasanya mungkin tiba 1 jam sebelum keberangkatan domestik, sekarang calon penumpang sudah ada di bandara 2-3 jam sebelum keberangkatan,” ujarnya.

  1. Memilih layanan touchless

Di masa pandemi ini, sentuhan dengan berbagai benda memang harus dikurangi. Penumpang pesawat pun memilih itu sebagai kebiasaan baru. Menyusul hal tersebut, PT Angkasa Pura II menyediakan fasilitas touchless seperti misalnya tombol pedal kaki di lift, wastafel otomatis, mesin hand sanitizer otomatis dan lain sebagainya.

  1. Mengukur suhu tubuh

Pengukuran suhu tubuh yang dilakukan penumpang pesawat kini menjadi hal yang biasa di bandara SIM.

Adapun PT Angkasa Pura II dalam waktu dekat juga akan meluncurkan Travelation untuk memeriksa dokumen secara digital. Melalui Travelation, calon penumpang pesawat dapat mengunggah berkas yang diperlukan sebagai syarat diperbolehkan terbang.

Indra Gunawan mengatakan digitalisasi di segala aspek memang menjadi suatu keharusan terlebih di saat kondisi seperti ini.

“Tuntutannya adalah efisiensi dalam hal waktu di tengah adanya prosedur tambahan yang harus dijalani penumpang pesawat, dan salah satu solusi adalah melalui Travelation,” ujar Indra. [randi/ril]

 

View this post on Instagram

 

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Untuk menyambut era new normal, sekitar 50 persen hotel di seluruh Aceh mulai beroperasi kembali. Meskipun, tamu yang hendak menginap di hotel masih minim. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Aceh, Yusri Syamaun mengatakan, beroperasinya sebagian hotel di Aceh dikarenakan adanya kelonggaran yang diberikan pemerintah, terkait aktivitas perjalanan baik melalui darat maupun udara. “Belum begitu aktif semua, tapi sudah mulai lah, sekitar 50 persen sudah ada yang buka,” kata Yusri saat dikonfirmasi, Sabtu (13/6). Meski demikian, tamu yang hendak menginap di hotel masih minim. Baik dari lokal maupun dari luar Aceh. Sebab, warga masih enggan melakukan perjalanan ke Aceh. Padahal kata dia, Aceh salah satu provinsi yang tingkat penularan virus coronanya masih minim. Sehingga, ia berharap para pelancong tidak enggan datang ke Aceh. “Tamunya masih banyak kurang, jadi bukanya belum sempurna, kalau tamu luar belum ada. Orang masih takut-takut juga,” ucapnya. Menurutnya, beroperasinya kembali bisnis perhotelan di Aceh juga untuk membangkitkan perekonomian, yang dimana selama tiga bulan terakhir bisnis hotel di Aceh redup. Bahkan, sebagian hotel terpaksa tutup dan merumahkan karyawannya. Selengkapnya klik di www.kanalaceh.com atau swipe story #bandaaceh #acehbesar #acehjaya #acehbarat #naganraya #abdya #acehselatan #subulussalam #acehsingkil #pidie #pidiejaya #bireuen #acehutara #lhokseumawe #acehtimur #langsa #acehtamiang #gayolues #acehtengah #benermeriah #sabang #hotel #perusahaan #karyawan #dirumahkan #phk #bisnis #dampakcorona #pandemiccorona #newnormal

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on

Related posts