Nilai Ekspor Aceh Meningkat 7,7 Persen Pada September 2026, Didominasi Batu Bara

(net)

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat nilai ekspor barang asal Aceh pada September 2026 mencapai USD79,75 juta, meningkat 7,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut turut mendorong neraca perdagangan luar negeri Aceh mencatat surplus sebesar USD61,83 juta.

Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan surplus tersebut terjadi karena nilai ekspor jauh lebih besar dibandingkan nilai impor yang pada September 2026 tercatat sebesar USD17,92 juta. Sementara itu, nilai ekspor juga meningkat 57,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Nilai ekspor Aceh pada September 2026 mencapai USD79,75 juta, sedangkan nilai impor sebesar USD17,92 juta. Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh mengalami surplus sebesar USD61,83 juta,” kata Agus saat menyampaikan Berita Resmi Statistik Provinsi Aceh, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan, komoditas ekspor Aceh pada September 2026 masih didominasi bahan bakar mineral, terutama batu bara, dengan nilai USD52,90 juta atau berkontribusi 66,34 persen terhadap total ekspor. Komoditas lainnya meliputi lemak dan minyak hewan atau nabati (CPO) senilai USD9,84 juta, pupuk USD8,76 juta, serta kopi dan rempah-rempah sebesar USD3,13 juta.

Berdasarkan negara tujuan, India menjadi pasar ekspor terbesar Aceh dengan nilai USD64,96 juta atau sekitar 81,46 persen dari total ekspor. Ekspor ke negara tersebut didominasi batu bara, CPO, dan pupuk. Berikutnya Thailand dengan nilai USD6,25 juta, Filipina USD2,58 juta, Amerika Serikat USD1,72 juta, serta Jepang USD1,60 juta.

“Ekspor ke Thailand berupa komoditas batu bara serta daging dan ikan olahan. Sementara ekspor ke Filipina didominasi pupuk. Adapun ekspor ke Amerika Serikat berupa kopi dan rempah-rempah, sedangkan ke Jepang meliputi bahan anyaman nabati, berbagai produk kimia, serta kopi dan rempah-rempah,” jelasnya.

Agus menambahkan, berdasarkan sektor lapangan usaha, ekspor Aceh masih didominasi hasil pertambangan dengan nilai USD52,94 juta atau 66,39 persen dari total ekspor. Selanjutnya, industri pengolahan mencapai USD22,66 juta atau 28,42 persen, sedangkan sektor pertanian sebesar USD4,15 juta atau 5,20 persen.

Dari sisi jalur pengiriman, ekspor komoditas asal Aceh melalui pelabuhan di wilayah Aceh mencapai USD72,41 juta atau 90,82 persen dari total ekspor. Sementara sisanya sebesar USD7,32 juta dikirim melalui pelabuhan di luar Aceh, dengan nilai terbesar melalui Sumatera Utara sebesar USD7,31 juta.

Di sisi impor, nilai barang yang masuk ke Aceh pada September 2026 mencapai USD17,92 juta, turun 78,32 persen dibandingkan Agustus 2026. Komoditas impor terbesar adalah gas propana dan butana senilai USD11,53 juta atau 64,33 persen dari total impor. Berikutnya bahan kimia anorganik sebesar USD3,49 juta dan pupuk USD2,54 juta.

“Impor Aceh pada September 2026 didominasi gas propana dan butana, bahan kimia anorganik, serta pupuk. Berdasarkan negara asal, impor terbesar berasal dari Amerika Serikat senilai USD11,53 juta, Jepang USD3,49 juta, dan Tiongkok USD2,54 juta,” tutupnya.

Related posts