Tiga Bendungan di Aceh Jadi Proyek Strategis Nasional

(Foto: PUPR)
--Ads--
loading...

Banda Aceh (KANALACEH.COM) – Kementerian PUPR memasukkan tiga proyek bendungan di Aceh dalam daftar Proyek Strategis Nasional(PSN). Pembangunan ketiganya ditargetkan selesai maksimal pada 2024 mendatang.

Kepala BWS Sumatera I Kementerian PUPR Djaya Sukarno mengatakan tiga proyek bendungan Aceh yang masuk dalam daftar PSN, antara lain Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara, Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, dan Bendungan Tiro di Kabupaten Pidie. Dari tiga bendungan tersebut, progres pembangunan Bendungan Keureuto sudah hampir rampung, yakni 70 persen.

“Lalu kalau Bendungan Rukoh progres pembangunan 10 persen. Bendungan Tiro sendiri baru kami revisi desainnya,” kata Djaya di Banda Aceh, Kamis malam (20/2).

Ads

Djaya bilang revisi pembangunan proyek Bendungan Tiro diubah karena proses relokasi desa sebelumnya berjalan alot. Dengan begitu, Bendungan Tiro yang sebelumnya dirancang untuk menampung air sebanyak 45 juta meter kubik menjadi hanya 15 juta meter kubik.

“Dulunya dua tampungan, jadi melewati dua sungai. Tapi relokasi banyak yang menolak warganya, jadi kami ambil alternatif untuk buat tampungan air yang lebih kecil. Tampungan satu lagi ditiadakan,” terang Djaya.

Saat ini, pemerintah masih menyusun desain pembangunan Bendungan Tiro. Djaya menargetkan pembuatan desain itu bisa selesai dan disetujui oleh pemerintah pusat maksimal akhir tahun ini, sehingga pembangunan bisa dimulai pada Desember 2020 atau awal tahun depan.

“Untuk desain pembangunan Bendungan Tiro masih menunggu sertifikasi dan persetujuannya,” ujar Djaya.

Menurut dia, proses pembangunan satu bendungan biasanya memakan waktu tiga hingga empat tahun. Oleh karena itu, pembangunan Bendungan Tiro diproyeksi selesai paling lambat 2024 mendatang.

Sementara, pembangunan dua bendungan lainnya ditargetkan lebih cepat selesai yaitu dalam dua tahun ke depan. Rinciannya, Bendungan Keureuto ditargetkan selesai pada 2021 dan Bendungan Rukoh 2022.

Djaya menuturkan ketiga bendungan itu berguna untuk mengendalikan banjir wilayah setempat. Kemudian, tiga proyek bendungan nantinya juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Ini khususnya untuk Bendungan Keureuto.

“Kami sudah bangun untuk kebutuhan listrik, tinggal sisanya nanti dari PT PLN (Persero) atau perusahaan lain yang memanfaatkan bendungan itu. Kami sudah bangun infrastruktur untuk pemanfaatan airnya,” tutur Djaya.

Tak hanya bendungan, pemerintah juga memasukkan dua proyek Daerah Irigasi (DI) dalam daftar PSN. Dua proyek tersebut adalah irigasi di Jambo Aye Kabupaten Aceh Timur dan Lhok Guci di Kabupaten Aceh Barat.

Saat ini, progres pembangunan irigasi di Jambo Aye dan Lhok Guci baru sebesar 50 persen-60 persen. Pembangunan irigasi Jambo Aye ditargetkan selesai pada 2020 dan Lhok Guci pada 2021.

Sebagai informasi, PSN adalah proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau badan usaha yang memiliki sifat strategis untuk peningkatan pertumbuhan dan pemerataan pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah.

Definisi itu diatur Peraturan Pemerintah (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN sebagaimana telah diubah dalam Perpres 58/2017 dan Perpres 56/2018.

Proyek yang masuk ke dalam daftar PSN memperoleh kemudahan dalam pembebasan lahan dan pengurusan perizinan. [SUMBER: CNN]

 

View this post on Instagram

 

Cerita Brigadir TM Saputra Lamar Kekasih Hati Dengan Mahar 100 Mayam Emas Aceh Utara (KANALACEH.COM) – Brigadir TM Saputra, anggota Polres Aceh Utara yang sempat viral karena membawa anaknya saat menjaga kantor PPK pada pemilu 2019 lalu, Kamis (20/2) resmi menikahi wanita pujaan hati. Putra begitu spaan akrabnya, melepas masa dudanya dengan seorang wanita bernama Maya Karmila, seorang bidan berusia 29 tahun yang tak lain adalah adik kandung dari mendiang istri Putra yang pertama. Pernikahan keduanya berlangsung di rumah mempelai wanita, di Glp VII Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Hal menarik dari pernikahan ini adalah jumlah mas kawin yang menurut sebagian orang dirasa begitu fantastis, betapa tidak, Brigadir Putra menyiapkan 100 mayam emas dan uang tunai Rp 100 juta untuk akad nikahnya. Putra mengaku jika mas kawin ya ia siapkan adalah hal yang wajar ia berikan pada sang istri. “Selama ini maya menjaga anak saya dengan baik, dan saya membalasnya, dia memuliakan anak-anak saya, dan saya memuliakan dia pula,” ujar Putra. Putra juga mengakui jika mas kawin yang ia berikan bukanlah permintaan dari mempelai wanita maupun keluarganya. “Jumlah yang demikian bagi saya bukan sekadar mahar, namun sebagai ungkapan terimakasih karena selama 3 tahun 4 bulan ini dialah orang yang menjaga dan merawat teuku dan pocut (anak putra) adalah maya,” ungkap Putra. [Rajali/rel] #acehbarat #acehtenggara #acehutara_lhokseumawe #acehutara #acehgayo ##bandaaceh #acehsingkil #acehtamiang #acehtimur #acehbesar #acehselatan #brigadir #melamar #menikah #mahar #100juta #pasanganmudabahagia #pasutri #mahartinggi #kekasihhalal #kekasihhati #duda #bidan #matangkuli

A post shared by Kanal Aceh (@kanalacehcom) on